Diposkan pada tak terkategorisasi

Cenderung status quo


Peduli amat!!! begitu yang terbersit dalam pikirku, setelah menyaksikan sebuah berita tentang penemuan rasi/gugus/konstelasi bintang baru oleh ahli astronomi (klo ga salah namanya Ophiucus….). Sssttt…sebenarnya bukan pada hal penemuan ini yang aku permasalahkan. Yang pasti para peneliti bidang astronomi tidak akan pernah mau berada pada status quo karena mereka tahu pasti bahwa ilmu pengetahuan akan terus berkembang.

Sepertinya ini akan berimbas juga pada bidang astrologi. Kemungkinan besar akan ada penambahan zodiak juga pada sistem astrologi yang telah mapan. Bukan perubahan itu yang aku permasalahkan… hehehe. Tapi para pengikut aliran astrologi ini yang cenderung pro status quo. Ah, pedui amat! Mau berubah atau engga…

Eh, tapi ini nih yang paling membuat aku tidak habis pikir. Tidak lain ialah beberapa tanggapan yang muncul dari para fanatik aliran ini. Ketika dimintai tanggapan bahwa bidang astrologi akan mendapat tambahan zodiak, sebagian besar menjawab dengan antusias. “Ya ga maulah, aku ga mau zodiakku diubah, udah sesuai kepribadianku, udah sesuailah…”. “Kalau yang negatif-negatif sih ya… engga aku ikutilah (loh! katanya udah sesuai… Dodo), yang positif-positif kan udah sesuai sama aku…”

“Jadi aku ga mau, aku tetap Virgo aja…, ntar kalau berubah, kepribadianku jadi lain lagi…”

Haaalaaah….astaghfirullah. Kalau orang ndeso yang kuper dan tidak berpendidikan yang ngomong begitu sih, ga peduli aku. Tapi ini para generasi muda kita yang katanya lebih pintar dari generasi sebelumnya…

Aku pikir manusia itu cenderung untuk mempertahankan status quo diri dan lingkungannya. Apalagi kalau terdapat keuntungan dari kondisi tersebut. Sayangnya banyak gelintir orang yang tidak tahu apakah kondisi itu baik bagi dirinya atau tidak. Termasuk orang-orang pintar. Pintar belum tentu paham kan…Kalau boleh aku katakan manusia ini disebut sebagai kaum fanatis/ekstrimis (bukan teroris loh… :-D). Ya, tentu aja ada ekstrimis kanan dan ekstrimis kiri. Yang saya maksud ialah kaum ekstrimis kiri.


glossary:

status quo=keadaan sebagaimana seperti sekararang/sebelumnya

zodiak=simbol yang mewakili 12 buah gugus bintang

Diposkan pada tak terkategorisasi

Enak banget….


Habis nyuci dan bersih-bersih, aku cabut keluar mau ngambil duit, makan dan potong rambut. Iya potong rambut, dah mulai gerah nih, secara cuaca Serang dah mulai panas kembali. Kemarin lihat ada barbershop di sebelah sebuah warnet. Kayaknya biasa aja pelayanannya. Setelah masuk, langsung duduk dan dilayani potong rambut. “Gaya Mandarin, ya…” , hehehe…sengaja pilih style ini biar lebih lama bertahan. Kalau potong cepak dah bosan si…

Lihat tarif potongnya rada terkejut juga. Anak-anak 5000 rupiah, dewasa 7000 rupiah. Di Jogja biasanya aku langganan di Kompak (tahu kan…?), yang punya semboyan “Tempat Potong Rambut Orang Cerdas” lengkap dengan papan reklame Alber Einstein-nya. Di sana paling mahal cuma 5000 rupiah.

Eh, tapi aku keburu berprasangka…ternyata enak banget potong rambutnya, ga grasa-grusu, santai, sampai terkantuk-kantuk aku-nya saking menikmati seliweran mesin potongnya. Trus rapi banget hasilnya. Sesekali gunting berseliweran juga dan terakhir pisau cukurnya beraksi… :-D. Emang agak lama sih, tapi jadi menikmati gitu…Dan yang paling enak lagi nih…ada layanan plus, layanan pijat…., iya tukang potongnya, setelah selesai motong, memulai memijat kedua bahu dan tengkukku, wuihhh, nikmaaat….  (padahal baru tadi pagi istriku nawarin hadiah pijat selama satu jam kalau tesisku bisa kelar, hehehe…).

Pijatan berlanjut ke kedua lengan dan jari-jariku….enaaaak, sambil ngantuk-ngantuk gitu. Ga kelupaan kepalaku jadi sasaran dipijat. Lucu banget gaya mijatnya, ga ngerti pake gaya apa itu. Diurut, ditekan, dibekap, macam-macam deh…. Terakhir, tangan sang barber memegang puncak kepala dan daguku dengan kain, trus…kreeekkk, “dipatahin” ke kiri, dan ke kanan, wah…wah…enaaaak tenan, seger.

Jadi ketagihan nih, udah lama ga pernah dapat layanan plus gini. Dulu sih, pernah waktu masih di Pekanbaru, cuma mijatnya pake mesin gitu, jadi ga begitu enak. Apalagi, kayaknya tadi orang di sebelahku dipijatnya pake minyak tawon gitu, wuihhh, pasti lebih kerasa lagi tuh enaknya.

Jadinya 7000 rupiah terasa puas banget deh… :-D. Buat teman-teman yang mampir ke Serang. Kalau sempat cobain deh, potong rambut di dekat perempatan Ciceri, Serang. Namanya kalau ga salah Parahiyangan Barbershop. Specially for men, hehehe…

 

Diposkan pada puisi

Rasa…


Rasa

Sayangku….
Beginikah rasa keterikatan hati?
Yang amat menyiksa batin ini…
Sungguh selaksa kerinduan menghujam diri
Hingga tak ragu kukatakan
Dirimu mengungkung fikiran






















Sayangku…
Slalu tanyamu padaku
“Cintakah Mas padaku?”
“Mmm…ragukah dirimu padaku?”, alihku…
“Hingga tiap kali hendak jawabku?”

Memang kubukanlah peromantis dalam kata
Namun kuberharap tertuang dalam bait cerita…
Cerita kehidupan kita di mayapada
Seperti akuku padamu
Kala kita bersama dalam pelukan kalbu

Sayangku…
Andai dapat kucurahkan
Segenap rasa menghamba jiwa
Tuk dirimu sang pesona dunia
Kapankah kembali memadu rasa?
Agar lepas derita yang kubawa

Sayangku…
Nantilah aku di ujung sendu
Nantikan aku tuk hapus galaumu
Jangan pernah ada seutas ragu
Akan cintaku untukmu
Pelukku untukmu Sayangku… X:-)X

Serang, penghujung pekan, 16:59, Feb 10.

Diposkan pada tak terkategorisasi

Suka makan, tetapi bersisa?


Aku suka memperhatikan orang-orang, terutama mungkin para cewek kali ya…(benar ga ni?).
Aku memperhatikan, kenapa kalau mereka makan, tidak (pernah) dihabiskan. Mungkinkah makanan itu tidak lezat sehingga terlalu eneg kalau harus dihabiskan. Mungkinkah takut gemuk? Mungkinkah anoreksia nervosa? Mungkinkah hanya sekedar gengsi dan malu?

Aku tidak bisa men-judge-nya. Karena setahu aku memang belum pernah ada survey mengenai hal ini. Apakah frekuensinya sama antar pria dan wanita? aku ga tau. Apakah rasionya sama antara orang kaya dan orang miskin? aku ga tau. Apakah sebarannya sama antara anak-anak dan dewasa? aku ga tau juga… :-b

So, perlu diteliti kali yah?

Tapi…dari perspektif sederhana, aku ingin menunjukkan dampaknya yang luar biasa.

Sisa-sisa makan ini bisa sangat bermanfaat buat ayam-ayam kita, bisa bermanfaat buat ikan-ikan kita, bisa mengenyangkan kucing-kucing kita, bisa mengenyangkan anjing-anjing kita. Bisa juga kali ya…buat tanaman kita, buat pupuk…dan yang jelas bisa sangat mengenyangkan semut-semut bahkan kuman-kuman di sekitar kita… :-D.

Bila satu orang menyisakan sebutir nasi saja setiap kali makan. Maka dengan asumsi bahwa kita makan tiga kali dalam sehari dan jumlah penduduk dunia sekitar 5 milyar jiwa, maka dalam sehari kita dapat mengumpulkan 1 x 3 x 5.000.000.000 = 15.000.000.000. 15 milyar butir nasi. Bila sebutir nasi berbobot 2 mg, maka 15 milyar sama dengan 30 kali sepuluh pangkat 9 mg nasi atau 30 ribu kilogram atau 30 ton nasi!!!

Kalau 1 orang perharinya hanya menghabiskan 1/2 kg beras, maka 30 ton ini cukup untuk kebutuhan 60 ribu hari, atau selama 164 tahun!!! Adakah usia manusia di zaman sekarang mencapai angka segitu?

Jika harga nasi tersebut itu dikonversi ke rupiah, maka seharinya bisa menghasilkan 120 juta rupiah (jika per kg beras=4000). Ini seharga rumah mewah. Dengan modal 3 butir nasi perhari, kita bisa memberikan 1 buah rumah mewah kepada seorang tuna wisma setiap harinya…

Diposkan pada tak terkategorisasi

Tips Menghadapi Banjir


Tips Menghadapi Banjir
Sumber: Tim Bakornas

1. Amankan barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi
2. Matikan aliran listrik di dalam rumah atau hubungi PLN
3. Mengungsilah ke tempat aman
4. Hindari berjalan di dekat saluran air
5. Siapkan obat-obatan
6. Jika air meninggi, hubungi instansi terkait