Diposkan pada tak terkategorisasi

Anakku…! anakku! anakku..!!!



Anakkuuuu…! anakkuuu…! (Meoooong…!….meooooong!), sepertinya begitu terjemahan yang dapat aku tafsirkan dari rintihan si belang, pus tetanggaku itu…
Atau mungkin juga ia sangat butuh “curhat” kepada diriku, terbukti dari setiap saat dia mencium “bau”-ku, saat berada di rumah. Padahal pintu kamar dah ku tutup, ternyata penciumannnya sangat tajam. Kasihan juga…kadang-aku keluar sebentar membelainya dan membiarkan ia naik ke pangkuanku. Lihat aja…pandangannya menerawang, seolah mengingat peristiwa tragis yang baru saja berlalu.

Ketiga anaknya yang baru saja dilahirkan Kamis dini hari 7 September, Sabtu pagi 9 September kemarin kutemukan dalam keadaan tidak bernyawa lagi, innalillahi wa inna ilaihi raaji’un…

Aku tidak tahu kejadian sesungguhnya yang menyebabkan anak-anaknya berpulang ke rahmatullah. Tapi dugaanku sang pembunuh itu ayahnya sendiri, karena aku memergoki lagi ngumpet di bawah meja di dekat kardus anak-anaknya.

Kasihan si pus belang…

Pada foto terlihat, si pus lagi menjilati anaknya yang sudah tidak bernyawa itu. Mungkin dia mengira anaknya sekedar tidur, sehingga harus dibangunkan, karena sudah saatnya untuk menyusui.

Di Foto kedua dia terlihat ingin ditemani terus, masih sedih (mungkin) dengan kepergian anak-anaknya…sabar ya pus….

Diposkan pada tak terkategorisasi

Numpang melahirkan ya…


Pulang dari Jl. Timoho kemarin, langsung ingin merebahkan badan di kasur kami yang empuk, mmm….tapi ternyata harus tertunda oleh kasus emergensi: sang kucing tetangga-ku itu, teriak-teriak di dalam rumah. Tapi meongannya kali ini rada aneh, istriku juga bilang begitu: “mungkin mau melahirkan…”

Setelah sang kucing menghampiri kami, aku coba lihat bagian belakangnya, eh…benar, dia mau melahirkan, dan ternyata juga, darahnya sudah berceceran di lantai rumah, wah…wah…istriku langsung teriak-teriak (maklumlah tidak suka kucing…)

Lendir darah (dan mungkin juga ketubannya sudah pecah)! salah satu tanda melahirkan…
Sambil menenangkan si pus yang belang tiga (ga punya nama, hehehe…) aku minta tolong istriku mencarikan kardus buat tempat melahirkan.

“Waaa, mas! di atas juga udah dicecerin darah si pus, kardusnya juga…”
“Ya, udah ga papa, yang itu aja, bawa ke bawah…”

Setelah mengalasi dengan koran dan kain, si pus pun masuk ke kardus itu, nyaman sebentar..

Tapi si pus butuh ditemani (wah, kemana sih suaminya, kok ga bertanggungjawab! ) Dia ga mau ditingggal, aku pergi dia ikut…sambil teriak-teriak…”meong..meoooong…!”

“Mas, keluarin aja, ya, jijik aku…”, keluh istriku
“Ya jangan, di luar kan dingin, ntar anaknya pada mati”

Tapi…susah juga si pus tetap ikut aku ke mana pun, padahal kardusnya udah tak pindahin ke mana si pus ikut…
Terus aku keluar sambi bawa kardus, (“ya, udahlah, repot juga, tak taruh di luar aja sesuai saran istriku, kardusnya aku taruh ditempat yang tidak terlalu terbuka…si pus masuk ke dalamnya, nyaman sebentar, trus aku tinggal, eh, langsung ikut lagi!
Cepat-cepatan menerobos pintu rumah, wah hampir kejepit kepalanya! Akhirnya aku berhasil menutup pintu…fuih…fuih…aku intip lewat sela pintu, si pus lari ke samping rumah, mungkin mau masuk lewat atap, ternyata dia kembali ke depan pintu yang aku tutup itu..

Kembali deh…, teriak-teriak, meoooong…..meooooooong….wah…wah…pokoknya kali ini sepertinya dia tidak terima diperlakukan begitu. Teriakannya membahana dan sangat keras kali ini!

Menyerah deh, pintu aku buka, dia langsung menerobos masuk…ikut aku ke atas. Ternyata dia suka di atas. Langsung cari tempat, kardus aku benahin, dia masuk, tapi ya itu…manja benar, minta ditungguin, aku masuk ke kamar, dia masih teriak-teriak, keluar dari kardus…

Akhirnya aku tinggalin aja, sambil tiduran, aku nguping: dia terus mengerang-erang aneh begitu…Akhirnya aku tidur. Tengah malam terbangun bentar, dengar suara si pus kecil anaknya, wah ternyata udah lahir, alhamdulillah. Kata istriku dia sempat lihat, anaknya baru satu. Aku dengan asyiknya, mungkin karena capek, langsung tidur lagi…hehehe…

Tahu ga, istriku jadi ga konsen tidurnya malam tadi, sebentar-sebentar terbangun, lihat keluar, hehehe lucu deh…setiap keluar bayi si pus satu ekor, dia lapor aku…terus tanya: “Mas, kok lahirnya ga bareng sih?”
“Ya, mungkin memang maunya begitu, kucingnya kan juga rada-rada panik, kesakitan, makanya dikeluarin satu-satu, hahaha…”
“Mas, tau ga…tadi tuh, jantan (suami)-nya datang, tapi mereka malahan bertengkar..”
“Wah!”
“Apa mungkin dulu itu, waktu kelahiran pertama, anaknya di makan oleh jantanya, ya…?”
“Mungkin juga ya…”

Singkat cerita, si pus melahirkan 3 putra (atau putri ya, belum tau sih…). Cuma satu ekor yang warnanya sama dengan suaminya (kuning/merah (oranye)). Sisanya belang 3, seperti ibunya…Selamat ya pus…kamu sudah sukses melahirkan , walaupun cuma numpang ditempatku (tapi sepertinya ga tega kalau harus bilang ke tetanggaku, karena memang si pus lebih suka ke tempatku, walaupun kalo makan, dia kembali ke tetanggaku itu…)

(selesai hari kamis pukul 11:49, di kantor)

Diposkan pada tak terkategorisasi

"Sudah jatuh, tertimpa tangga lagi" – Kisah seorang korban gempa


Ini sebuah kisah seorang bapak korban gempa dari Palbapang, Bantul. Seingatku kejadian ini dimulai hari Jum’at malam, setelah sholat magrib. Kebetulan pada waktu itu aku lagi mangkal di masjid barat selatan fakultasku. Sedang asyik-asyiknya aku ngobrol dengan serang teman, seorang bapak datang datang menghampiri.

“Mas, mau minta donor darah, ada yang bisa ga ya?” Kira-kira begitu kata beliau. “O, coba langsung aja ke takmir masjid aja, Pak. Biasanya nanti langsung diumumkan…”, kataku sambil tetap mengobrol dengan temanku.

“O, nggih, mas, matur nuwun (ya, mas, terima kasih)…”
Sesaat kemudian dari pengeras suara di masjid itu keluar pengumuman tentang permintaan darah golongan B sebanyak 1orang.

“Mmm…, aku kan golongan B…” kataku dalam hati. Ku lihat si bapak celingak-celinguk, kalo-kalo ada yang mau donor. Sampai akhirnya ia terlihat mau keluar dari masjid.

Segera aja secara spontan aku panggil tuh bapak. “Butuhnya B ya, Pak?” kataku setelah ia mendekat…Eee, malahan bukan menjawab, si bapak malahan menangis sesenggukan. “Wah, kenapa, Pak…? Dah, Pak tenang aja, nanti saya yang donor, siapa yang butuh darahnya, Pak?

Ia mulai bisa cerita, sambil menyeka lelehan air matanya. “Anak saya, mas…”
“Ok, Pak, kita langsung ke sana (ke PMI RS Sardjito)…, barenga aja, Pak, tapi tunggu sebentar, ya…

Aku menemui istriku yang sudah menunggu di belakang. “Yang, acaranya ga jadi, tapi aku mau donor sebentar, ayo ikut aja…sepertinya bapaknya butuh cepat.” Istriku menurut aja.

Bertiga kami menuju PMI RS Sardjito. Sambil berjalan aku nanya-nanya ke bapaknya.
“Anak Bapak sakit apa? berapa umurnya?”
“Perutnya, mas…perutnya kembung dan merasa kesakitan terus, umur putri saya 5 bulan…”
“Ooo, baru lahir ya, Pak….mmmhhh, kenapa perutnya, Pak…? ko bisa gitu?”
“Nganu, mas, dulu itu, anak saya, ketika baru lahir, kata dokter…dia kena hidrosefalus (pembesaran kepala karena jumlah cairan otak meningkat). Udah di operasi kemarin, dipasangi pipa dari kepala ke perutnya (kalau ga salahku nama operasinya VP-shunt)…”
“Terus..?”
“Ya, beberapa hari ini anak saya itu menangis terus seperti kesakitan, dan perutnya kembung…, kata dokter lagi…mungkin ada ususnya yang melintir…”

Ya…ya…aku paham….

“Sekarang, anak Bapak di mana, ada yang nungguin ga?”
“Di IGD, saya sendiri ke sini, ibunya sedang nungguin anak-anak di rumah…”
“Yang ini anak keberapa?”
“Keempat”
“Kalau gitu, Bapak silakan menunggu anak Bapak aja di IGD, saya di sini aja menunggu diambil darah…”

Bla…bla…bla… Akhirnya darahku diambil juga setelah menunggu lumayan lama. Tak lupa juga membawa “oleh-oleh” dari PMI berupa obat tambah darah dan mie gelas. Susu coklatnya sudah aku minum sesaat setelah darahku diambil.

Karena sudah cukup malam, aku dan istriku pamit aja langsung, ga sempat lihat anak si bapak, yang katanya sudah dipindah ke ruangan rawat inap intermediet (IMC), sambil memberikan kartu namaku dan mendoakan anaknya, semoga lekas sehat.

Tiga minggu lebih dari pertemuan dengan bapak itu (aku kok lupa namanya ya…), ada telepon, ketika aku di kantor…

“Mas, terima kasih ya atas donornya kemarin…”
“Ya, Pak, sama-sama, gimana anaknya..?
“Sudah meningga, mas…”
“Innalillahi…, mmm…yang tabah ya, Pak… (bingung mau ngomong apa lagi…)”
“Sekali lagi makasih, mas…”
“Ya, Pak…”

Telepon di tutup. Seorang bapak, korban gempa, dengan empat anak (yang satu sudah meninggal itu) hanya bisa mengiang terus di memoriku. Mudah-mudahan sang putri bungsunya yang masih suci itu menjadi pemberi syafa’at kepada beliau di hari pengadilan nanti, amiiin…