tak terkategorisasi

Hobi "menukang" yang udah tumpul…


Dulu banget…., salah satu kegemaranku setiap hari adalah menukang alias mengerjakan hal-hal berbau teknis gitu, seperti membuat prakarya dari barang bekas (biasanya suka jadi buat tugas keterampilan waktu SD). Seingatku nilai keterampilan PKK (muatan kelas) – ku waktu SD nilainya selalu tinggi. Pernah buat mobil-mobilan dari bekas bungkus rokok, pernah buat lampu kanopi (ah apa sih nama sebenarnya…?), pernah buat lukisan bagus plus piguranya, pernah buat brush dari ijuk, dan lain-lain deh…

Makanya aku paling benci pas akhir SD dan selama di SMP, muatan kelas itu malah diganti dengan masak-memasak. Walaahh…ada-ada aja kejadian lucu, aneh, ngeri, dan memalukan, sewaktu grup kami ketika memasak dan menyiapkan segenap perlengkapannya. Contoh aja, pernah kompor kita meledak karena waktu mematikan kita malah meniupnya :-(, pernah juga masak ikan lele (klo ga salah gulai lele) yang ukurannya kurus-kurus kayak kecebong (jijay gitu…) yang kita hidangkan langsung dengan periuk jelek di meja hidangnya (hehehe…waktu itu guru PKK-nya marah besar, akhirnya tuh lele ga kita makan, malah dibuang ketempat sampah…), pernah juga salah urutan memasukkan bahan masakan, jadinya pas diakhir jadi ga mateng begitu πŸ™‚

Ah, kembali ke topik awal deh, masalah tukang-menukang. Akibat dah lama engga punya waktu untuk hal-hal menyenangkan ini ternyata berimbas kepada ketidakpekaan lagi terhadap pekerjaan yang membutuhkan perkakas keras ini. Contohnya saat kami pindah ke kontrakan baru. Ternyata harus ada beberapa pembenahan di sana-sini. Dasar malas aja ngundang tukang benaran, akhirnya aku inisiatif aja sendiri (eh, ga juga ding, setelah di “marah-marahi” juga sama istriku..hehehe…). Kran airnya yang pada bocorlah, tempat jemuran yang belum sempurnalah, kaca yang harus dilapisi kertas anti-tembus pandanglah, lampu listrik yang kedip-kediplah, dll deh…eh satu lagi, atap transparan yang rada bocor juga…

Nah, ini salah satu akibatnya setelah aku membenahi tempat jemuran. Jempol tangan kiriku kepenyet martil (untung aja kepala martilnya kecil, klo ga, mungkin dah jadi jempol penyet kaleee…)

Sakitnya belum ilang-ilang, nih…tadi malam masih nyut-nyut gitu. Secara dirumah persediaan pain-killer dah habis, akhirnya aku nenggak yang ada aja, diazepam alias sleeping inducer alias obat tidur, heheehehe (don’t try this without doctor’s prescribing yah…)

Iklan

50 tanggapan untuk “Hobi "menukang" yang udah tumpul…”

  1. 'Pak Tukang', bisakah bantu saya mindahin kabel telpon ? Biar bisa ngempi di rumah gitu, hihihi πŸ™‚ * Dari kemarin pengen mindahin sendiri, tapi koq ya blm sempet2, heheh πŸ™‚

  2. :-)) makasih banyak mba Theres, cuma belum sempat sih nyari jahe dan araknya, dah lumayan berkurang nih sakitnya. Lain kali pas kepenyet lagi aku coba deh…kadang obat dukun lebih manjur hehehe..

  3. untung saya anak teknik ya, jadi kadang urusan tukang menukang saya juga yang ngerjain (maklum sering ditinggal suami), mulai benerin sekering rumah, benerin kabel yang konslet, sampai mbenerin emergency lamp yang putus..
    tp gak sampai mbenerin genteng siy..

  4. padahal sangat berguna saat menikah, saling membantu partner dibila istri berhalangan: sakit, lg males, pergi, dll.

    Blm lg saat msh bujangan yg nge-kost

    Kini most of chef are men. It.s not a matter man or woman job (tentunya cara berpikir ini tdk terlintas saat msh kecil, terutama hidup dlm pola pengasuhan dinegara yg partriarki)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s