WidodoWirawan.Com


Tinggalkan komentar

Hospital Management Class: Enam Topi Berpikir


Beberapa bulan terakhir pasca kelulusan akreditasi RS kami, saya dan teman-teman berusaha kembali menghadirkan suasana pembelajaran di tengah suasana kerja pelayanan yang padat. Agar kompetensi manajerial senantiasa terasah, otak mampu terus berpikir di tengah permasalahan yang semakin rumit. Tidak cukup hanya membangun motivasi dan spirit, namun juga dibutuhkan penguasaan terhadap perangkat-perangkat manajemen handal untuk mengefisienkan dan mengefektifkan kerja. Dalam konteks ilmu Balanced Scorecard (BSC), elemen pertumbuhan dan pembelajaran komponen organisasi menjadi sangat penting agar senantiasa dapat melahirkan proses pelayanan yang kreatif dan inovatif serta minimal konflik. Dalam lingkup ke-RS-an, dengan komposisi padat karya yang dibangun dari berbagai level personal dengan variasi profesi berbeda, sangat tidak mudah memfasilitasi suatu nilai-nilai kebersamaan yang bersinergi dalam mencapai tujuan jangka pendek dan panjang organisasi. Namun dalam situasi positif, ini adalah sebuah tantangan, bukan pelemahan, bahkan kata seorang konsultan ini merupakan lorong-lorong transendental sebagai proses-proses ujian untuk kenaikan level personal maupun organisasi.

Syukurlah hasil-hasil pembelajaran selama ini mulai bisa ditularkan kembali kepada sebanyak mungkin komponen organisasi agar semakin paham dalam berpikir dan melangkah. Salah satunya menerapkan kelas manajerial rutin bagi para pejabat struktur organisasi. Ini baru sebatas diseminasi keilmuan, belum lagi nanti harus memperbanyak proses-proses magang untuk memastikan apa yang telah diterima, memang benar dikuasai dengan baik. Kali ini saya berkesempatan meneruskan kuliah manajerial dalam sebuah rapat rutin pejabat struktur. Kali ini kita belajar dan melatihkan secara awal penggunaan perangkat perencanaan dan pengambilan keputusan dengan metode “6 Topi Berpikir”, dalam bahasa aslinya, “Six Thinking Hats” yang digagas oleh seorang pemikir pengembangan fungsi otak, Edward de Bono.

Kata orang, mengumpulkan dan berhadapan dengan berbagai “isi kepala” yang variatif itu sangat memusingkan dan menyebabkan sebuah langkah pengambilan keputusan dapat mengalami set back/kemunduran atau minimal hanya jalan ditempat. Dengan metode planning, berpikir dengan gagasan 6 topi ini, maka segala permasalahan yang ditemui, akan lebih mudah diselesaikan dengan baik. Dalam perangkat 6 topi berpikir ini, setiap personal yang terlibat diberikan kesempatan yang sama dalam waktu yang ditentukan untuk mengenakan “topi berpikir” yang disimbolkan dengan warna tertentu ketika menilai suatu permasalahan. Kelebihan metode ini akan membuat keteraturan dan pola berpikir serta komprehensif karena melibatkan tinjauan dari semua aspek berpikir yang lahir dari sisi pribadi manusia itu sendiri, yaitu sisi objektifitas/netralitas, intuisi/emosional, positifitas, negatifitas, kreatifitas, dan pengendalian. “Enam topi berpikir” juga mempunyai kelebihan lain yaitu, membuat seseorang yang terbiasa berpikir melompat-lompat dapat berpikir lebih sistematis dan mengalir, ini untuk menghindarkan hal-hal penting yang dapat terlewatkan dan menyebabkan suatu keputusan tidak dapat dieksekusi dengan baik. Di sisi lain juga berguna bagi mereka yang terbiasa pasif dan susah mengemukakan pendapat, 6 topi berpikir dapat “memaksa” agar seseorang lebih terlatih mengeluarkan ide-ide saat menggunakan topi-topi itu apalagi didampingi oleh fasilitator yang baik.

Baiklah. Terlebih dahulu saya definisikan makna dari setiap topi. Topi Putih adalah sisi objektifitas, yang berbicara dari sisi data, informasi, dan fakta yang tersedia. Topi Putih memerlukan persiapan, membutuhkan sedikit usaha dan waktu sehingga sebaiknya sebelum sesi latihan/pertemuan menggunakan 6 topi berpikir ini, telah ditentukan terlebih dahulu permasalahan yang akan dibahas sehingga data-datanya juga sudah dipersiapkan. Berikutnya, Topi Merah adalah sisi emosional, dimana setiap individu pada saat yang sama dipersilakan mengeluarkan pernyataan emosionalnya yang tidak dipengaruhi oleh logika, jadi gunakan subjektifitas dalam menilai suatu isu/masalah. Curah pendapat ketika Topi Merah dipakai akan memberikan suatu kepuasan bagi pribadi-pribadi untuk berusaha melepaskan segala unek-uneknya dalam rangka memperkecil ego. Selanjutnya, Topi Kuning adalah melambangkan cara berpikir positif optimistik dan visioner (melihat jauh ke depan). Terkadang tidak jarang banyak ide-ide gila yang muncul saat Topi Kuning dipakai, meski masih dalam tataran konsep, namun logika positifnya dapat tetap dipertanggungjawabkan. Berikan sebanyak mungkin konsep-konsep yang membangun/konstruktif ketika Topi Kuning sedang dipakai. Lalu, Topi Hitam, sesuai namanya adalah memposisikan diri dalam situasi kritis negatif, memaparkan sikap pesimistik dan selalu memandang skeptis serta memaparkan dampak-dampak buruk yang mungkin akan timbul dari suatu masalah yang sedang dibahas. Topi Hitam merupakan penyeimbang yang kuat terhadap pola berpikir Topi Kuning agar senantiasa siap dengan situasi-situasi akan datang yang telah diprediksi sehingga selalu ada rencana cadangan dan antisipasinya. Sebagaimana pola berpikir Topi Merah, menggunakan Topi Hitam sedikit lebih mudah bagi sebagian orang yang telah mengemukakan pendapatnya ketika memakai Topi Merah, karena Topi Hitam tinggal ditambahkan logika berpikir yang negatif. Selanjutnya, dipersilakan mengenakan Topi Hijau, saat dimana semua berpikir tentang solusi yang kreatif, tidak jarang merupakan hasil pengembangan berpikir ketika memakai Topi Kuning. Meski pun tampaknya beberapa individu yang dominan mengemukakan pendapatnya ketika mengenakan topi warna lain, terutama Topi Merah dan Topi Hitam, tidak cukup mudah ketika harus mengemukakan pendapat ketika mengenakan Topi Hijau. Menjadi individu yang kreatif, berpikir solutif memerlukan sesi pembelajaran tersendiri. Terakhir, Topi Biru, merupakan pengendali proses dari segala hal yang muncul dari semua topi berpikir tadi. Topi Biru memegang peranan kunci di awal dalam menentukan permasalahan yang akan dibahas, batas waktu pembahasan, dan aturan main pembahasan lainnya. Di akhir sesi pelatihan/pertemuan, Topi Biru merefleksikan semua proses yang telah dilalui dan menyepakati keputusan-keputusan yang akan diambil dan langkah-langkah berikutnya yang akan dilakukan. Meski pun umumnya Topi Biru ini diperankan oleh fasilitator atau pemimpin pelatihan/pertemuan, namun setiap orang yang terlibat dapat belajar menggunakan Topi Biru terutama dalam melakukan pengendalian dan oto-refleksi terhadap peran-peran yang telah dilakukan ketika mengenakan berbagai warna topi yang berbeda.

Di sinilah hebatnya teknik 6 topi berpikir ini, seseorang dari hasil akhir perannya dapat melihat suatu masalah secara global, lebih sederhana, komprehensif, dan menepis egonya. Untuk memperlancar penggunaan perangkat 6 topi berpikir ini, diharapkan setiap pejabat struktur dapat membiasakan menggunakannya di dalam rapat-rapat pembahasan terhadap suatu permasalahan yang dianggap rumit. Berbagai contoh kasus dalam penerapan 6 topi berpikir ini dapat dieksplorasi lebih lanjut dari sekian banyak referensi yang ada. Semoga bermanfaat.

Iklan