tak terkategorisasi

Luar biasa: kepemimpinan ala mbah Maridjan (Metro TV)


Iklan

18 tanggapan untuk “Luar biasa: kepemimpinan ala mbah Maridjan (Metro TV)”

  1. Di luar konteks kontroversi mengenai mba Maridjan, melalui tayangan di Metro TV, anaknya langsung meng-counter berbagai tuduhan mbah Maridjan adalah orang yang mitos minded, mbah Maridjan bahkan mengatakan lebih percaya dengan fenomena alam, bahkan mencurhatkan dirinya juga punya rasa takut terhadap letusan Merapi, jadi bukan karena beliau rosa/kuat sebagaimana yang dipelintir oleh media dan kebanyakan orang kita. Juga diterangkan keikutan beliau dalam sebuah iklan minuman berenergi juga karena “keterpaksaan” setelah dibujuk-bujuk bahwa honornya yang besar itu nanti bisa dipakai buat disumbangkan kepada tetangga-tetangganya yang lain. Luar biasa, beliau tidak memikirkan dirinya sendiri. Sebagai manusia polos yang hanya lulus SD, mbah Maridjan memberikan kita “pengajaran” arti pentingnya konsistensi dalam memegang amanah/tanggung jawab, loyalitas/kesetiaan, dan kejujuran. Beliau bukanlah pemimpin tetapi sosoknya seharusnya layak menjadi panutan yang sederhana bagi para pemimpin kita yang penuh dengan keculasan, melarikan diri dari tanggung jawab, berkeluh-kesah, korup, dan pengkhinat.

  2. dari ngobrol sama tetangga mbah marijan, memang demikian.
    honor pertama dipakai mendirikan masjid mungil, karna masih kurang dijual sapinya.
    honor2 berikutnya dibagi2 ke tetangganya.

  3. menteri tidak mau turun karena tebal muka dan tak merasa bersalah serta tamak takut penghasilannya hilang

    mbah maridjan kan kebalikan, beliau polos mempertahankan amanat sultan (walau bagi sebagain orang keliatan konyol, kok mau mati konyol, tapi apa benar mati konyol? kita juga tidak pernah mengetahuinya…) walaupun dengan gaji sangat kecil walaupun risikonya nyawa

    saya bukan membela mbah maridjan, tapi apapun pelajaran dan nilai luhur dari sebentuk makhluk Allah itu baik saja kita contoh klo memang itu baik dan sesuai dengan fitrah manusia sebenarnya

  4. ya Pak, kesimpulan singkat saya, fenomena yang ter-blow up ke media bukanlah menunjukkan wujud aslinya. Allah lebih tahu, sebagimana dulu ada seorang shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wassallam yang dikira para shahabat lain meninggal dalam keadaan husnul khatimah, ternyata kata Nabi, tidak. Jadi sebenarnya masalah men-judge bukanlah hak kita. Iya kalo kita benar, klo salah? orangnya kita ga pernah ketemu, malah nambah dosa kita saja, padahal kita ga bisa minta maaf lagi kepada beliau karena sudah tiada.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.