WidodoWirawan.Com

Benarkah WTS Dolly Butuh Keterampilan?

6 Komentar


Tulisan ini merupakan refleksi saya terhadap penutupan lokalisasi pelacuran Dolly oleh Walikota Surabaya, Ibu Tri Rismaharini. Saya tergelitik oleh asumsi sebagian orang bahwa menutup tempat lokalisasi pelacuran itu seharusnya bertahap. Bila kita memperhatikan, sebenarnya pemerintah tidak tinggal diam untuk itu. Niat baik pemerintah mendirikan dan memberikan izin area lokalisasi demi memudahkan pengendalian penyakit, memudahkan penyuluhan kesehatan, pemberian keterampilan, dan bila perlu pengajian rutin. Namun belakangan justru malah semakin memicu masalah yang lain seperti semakin semrawutnya daerah lokalisasi tersebut, semakin banyak masyarakat yang terkena getah pelacuran, tentu saja getah yang menurut masyarakat menguntungkan dalam sisi perekonomian, namun tidak perbaikan dan penjagaan moral masyarakat. Apakah tempat lokalisasi tersebut ada pengendalian yang ketat seperti halnya restricted area di beberapa negara lain: batas umur, agama, dan sebagainya. Akhirnya lokalisasi di Indonesia menganut prinsip liberalisasi tak terkendali. Ibu Risma sendiri pernah terenyuh dengan seorang pelacur tua yang pelanggannya adalah anak-anak SD. Belum lagi oknum aparat yang bermain dan semakin suburnya premanisasi.

Alasan penolakan, penutupan lokalisasi akan mematikan perekonomian, juga terkesan dibuat-buat. Memang dari beberapa sumber didapatkan info pendapatan WTS di Dolly cukup besar, bisa di atas 10 juta per bulan, masyarakat sekitar pun mendapatkan cipratan rezeki dari para pria hidung belang yang datang berkunjung. Tapi apa itu ekonomi yang berkah, halal?

Ah, jangan ngomong halallah, yang haram saja sulit di zaman sekarang. Astaghfirullah… ini yang saya maksud sebenarnya bukan masalah ekonomi semata yang menjadi alasan mereka tetap bertahan dengan alasan tersebut. Tapi lebih tepatnya karena pola pikir (mindset) yang rusak.

Saya menganalogikan dengan pengalaman saya yang pernah mempunyai seorang pembantu rumah tangga dari komunitas pengemis jalanan. Kami menerima dengan senang hati kerja di rumah karena dia sedang bermasalah, ketakutan tidak bisa kerja di jalanan, karena pernah kena garuk dinas sosial dan diancam kalau mengulangi menjadi pengemis jalanan, akan dipenjara selama 3 bulan. Kami pun terima permintaan gaji yang dia sebutkan untuk jadi PRT itu. Namun apa yang terjadi? tanpa rasa terimakasih dan sopan santun dia keluar dalam waktu sebulan setelah kerja, dengan alasan sakit. Meski sudah banyak bonus selain gaji kami berikan kami tidak merasa kecewa, justru maklum dan sudah menduga hal tersebut sejak di awal dia sudah beralasan sakit (ada 2 kali alasan sakit itu). Mungkin dia segan kepada kami untuk bilang tidak bisa lagi membantu kami, dan kami maklum itu. Alasan sakit pertama dia
masih kembali, karena ternyata jadi omongan para tetangga, kok dia ga kerja di tempat saya lagi. Mungkin karena tetangga melihat saya kembali sibuk antar cucian buat di setrika di laundry 😀 Wajar saja, kalau bekerja di jalan dengan cuma bermodalkan tangan menengadah, bisa mendapatkan jutaan per ulan bahkan melebihi gaji dokter (baca: Dokter lebih miskin dari pengemis?) – http://goo.gl/lGrnBh

Apa yang bisa ditarik kesamaannya? Ya, saya cuma bisa berkesimpulan jenis pekerjaan yang memudahkan untuk dapat uang banyak dengan modal yang kecil(bahkan tanpa modal uang) namun tanpa perlu mempertimbangkan harga diri, moral, dan agama, meski pun risikonya sangat tinggi seperti pengemis jalanan dan para WTS, ternyata lebih disukai. Mereka lebih memilih mengabaikan harga diri mereka. Lambat laun mereka tidak sadar pola pikir/mindsetnya menjadi rusak dan sulit diperbaiki kalau tidak mendapatkan hidayah/petunjuk atau tidak berusaha menjemput hidayah agar mindset menjadi benar kembali. Sangat kontras sekali seperti contoh yang diberikan oleh seorang blogger, Pak Rinaldi Munir, tentang pengalaman beliau bertemu dengan seorang penjual amplop tua ini: Bapak Tua Penjual Amplop Itu. – http://goo.gl/f1VDVH

Kembali ke awal, lalu benarkah para WTS butuh keterampilan? Benar, mereka sangat butuh itu. Tapi juga butuh untuk perubahan maindset yang sangat tidak gampang dari sisi waktu dan lingkungan. Dan ini yang lebih penting agar mereka kembali merasa mempunyai harga diri. Bila tidak, maka tetap akan sia-sia. Selain penutupan kompleks lokalisasi, senantiasa diperlukan cara-cara lain untuk melengkapinya secara terus-menerus, agar para WTS kembali menjadi manusia yang berharga diri, bukan menjual harga dirinya dengan nilai uang yang tidak seberapa berkahnya. Kalau tidak, akan terjadi seperti apa yang ditakutkan, para WTS akan jadi gerilyawan, menjajakan kembali dirinya secara sembunyi-sembunyi di banyak tempat lainnya, termasuk melalui transaksi online yang difasilitasi oleh mucikari, dan pendapatannya bisa jauh lebih besar.

Iklan

6 thoughts on “Benarkah WTS Dolly Butuh Keterampilan?

  1. Lama tak posting, sekalinya posting langsung tentang gang Dolly. Bicara tentang penghuninya, memang sudah seperti benang ruwet. Tapi masih bisa diurai. Saya setuju bahwa mindset itu yang harus diubah. Alasan “tidak punya ketrampilan”, “tidak punya modal”, “bisanya cuma ini” harus digempur habis2an. Bukannya banyak orang yang jauh lebih miskin daripada mereka tapi tetap tabah menjalaninya dan berusaha apa pun asal halal. Bantuan ekonomi sebenarnya sudah lebih dari cukup. Pendampingan hakikatnya adalah penguatan dan “pengawalan” dan “pengamanan” agar mereka tak kembali lagi ke jalan jeblok . Apa pun, yang dilakukan bu Risma patut kita apresiasi. Semoga pemkot Surabaya tetap tabah untuk mendampingi para WTS itu dan berani dalam menghadapi para mucikari yang berusaha dengan berbagai cara merebut kembali anak2 nya.
    NB. Ada novel karangan Sinta Yudisia yang menceritakan tentang seluk beluk kehidupan seorang WTS Dolly, judulnya Existere. Sudah baca?

  2. Setuju, pak, merubah mindset itu kuncinya.
    Termasuk menanamkan mindset bahwa menjual diri itu menjijikkan, agar mereka bisa sekuat tenaga keluar dari kubangan hitam itu untuk meningkatkan harga dirinya.
    Kondisi yang kita terima saat ini malah sebaliknya, para aktivis liberal menghargai profesi jual diri adalah sama mulianya dengan profesi halal lainnya. Sehingga mereka berjuang merubah istilah dari WTS menjadi PSK, dan kini menjadi lebih halus lagi yaitu: PS (Pekerja Seks).

    • “menanamkan mindset bahwa menjual diri itu menjijikkan, agar mereka bisa sekuat tenaga keluar dari kubangan hitam itu untuk meningkatkan harga dirinya.”
      —————
      betul sekali Pak… harga diri, itu hal yang terpenting, tapi bukan gengsi yang dipertahankan ya… mirip tuh harga diri dengan gengsi 😀

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s