WidodoWirawan.Com

Susahnya mencari ICU di malam hari :-(

28 Komentar


Iklan

28 thoughts on “Susahnya mencari ICU di malam hari :-(

  1. Ceritanya, malam ini satu pasien ada yang gawat dengan sakit Tetanus grade III alias parah. Setelah mengalami kejang dan henti napas berkali-kali, akhirnya keluarga dimotivasi untuk bersedia dirujuk ke Intensive Care Unit/ICU untuk dipasangi mesin bantu napas/ventilator dan ditidurkan. Keluarga setuju. Tapi lagi-lagi pengalaman lalu terulang. Kondisi malam (selain kondisi hari libur) sering menjadi momok bagi pasien-pasien kritis.

    Dari 9 rumahsakit yang dihubungi, cuma 1 yang mengatakan masih ada bed di ICU yang kosong. Itu pun RS mahal yang minta down payment alias setor dulu baru boleh masuk.

    Akhirnya pasien meninggal sebelum sempat dirujuk, innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun…

  2. Innalillahi wa inna ilaihi rooji'uun…
    wah begitu miris dg ceritanya, uang lebih diutamakan 😦

  3. innalillahi wa innailaihi roji'uuun

  4. Miris….ternyata semuanya masih mengandalkan uang.

  5. Turut berduka dan memikirkan apa yang harus dibenahi di sistem kesehatan kita

  6. Nah, beginilah keadaan di negara yang katanya udah merdeka sejak tgl 17 Agustus 1945 ini.

  7. Mengenai kesulitan dalam mencari fasilitas vital di malam hari ini memang masalah klasik. Sebagai orang dalam yang pernah belajar di beberapa RS terutama RS pemerintah seringkali terjadi pembohongan mengenai kamar ICU yang penuh, biasanya memang kru-nya rada malas dan memang ga berminat ditambah repot dengan adanya kiriman pasien.

    Ya, fakta lain menunjukkan bahwa dengan sekian banyak RS besar ternyata manajemen ICU-nya masih sangat jelek, ada yang bilang saat dihubungi, ICU masih available tapi alatnya ga ada, jadi gimana dong?

    Dengan sistem kecanggihan teknologi informasi sekarang ini seharusnya kita mulai benar-benar menjadikannnya sebagai alat bantu yang penting. Saya belum pernah tahu ada sistem informasi status kamar disetiap rumahasakit, available atau tidak, mestinya kan selalu ter-update setiap saat, tidak melalui birokrasi yang rumit dan sifatnya terbuka bisa diakses oleh masyarakat atau semua jaringan RS/Klinik. Jadi tidak perlu hunting melalui telepon yang bisa menghabiskan waktu ber-jam-jam hanya untuk memesan 1 buah kamar vital. Ya, mirip-mirip sistem informasi ketersediaan kursi pesawat atau kereta api lah…

  8. ada yang memberitahu ke saya DP-uang jaminan-nya itu Rp 15 juta…

    saya sempat menggerutu saat menelpon RS tersebut, ditanya hal macam-macam tentang status pasien dan keterangan tentang berbagai prosedur, akhirnya saya katakan: saya cuma butuh informasi apakah masih ada kamar di ICU atau tidak?! belum tentu saya merujuk pasiennya ke sini…

  9. begitulah, padahal di RS kami saja, keluarga pasien itu sudah khawatir ketika harus menyelesaikan administrasinya dulu. Lalu saya dan perawat katakan, tidak usah dipikirkan, entar aja diurus belakangan , yang lebih penting beri kami segera kepastian untuk bisa merujuk pasien supaya lebih mendapatkan pertolongan yang lebih baik… 1 1/2 jam saya fokus ke pasien itu pun dengan tidak tega saya juga ga menagihkan jasa observasi/konsultasi/visitasi medis saya, ga tega… 😦

  10. Ya, begitulah, andaikan saya yang menjadi pasien/keluarga pasien pasti lebih panik karena sudah tahu sistem yang masih bobrok…

  11. Hal spt ini lebih bagus ditulis di koran dok..

  12. bisa saja mba Nunk, namun saya kira sudah sering ditulis, dan ga berefek banyak…., tapi sebenarnya bisa dicoba lagi, coba saya pikirkan lagi ya… 🙂

  13. yg nyebelin tuh yg begini ya mas ….nyari informasi aja harus berbelit-belit
    harusnya kan tinggal nge-check, apakah ada kamar ICU yg kosong, dan alatnya ada apa enggak
    kebanyakan ditanya2 gak ngasih solusi, pasiennya keburu mati …huuuuuu…*jadi ikutan sebel*

  14. innalillahi… unsur bisnis lebih dikedepankan ketimbang unsur kemanusiaan. seharusnya RS itu gimana sih? bisnis : kemanusiaan: 50:50? 90:10?

    aku jadi teringat teman masa kecil (waktu berusia sekitar 8 tahun), namanya agus. telapak kakinya menginjak paku berkarat, tak segera diobati, tetanus parah, lalu suatu subuh ada pengumuman di speaker masjid: “agus anaknya pak letnan, sudah meninggal.”

  15. entahlah, berbeda-beda setiap RS, karena aslinya kita kan sistemnya liberal, bukan pancasila :-b

  16. Coba kalo pemerintah ada anggaran dana untuk pengelolaan SIMRS (Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit) yang sudah terintegrasi antar rumah sakit. Saya tidak tahu, apakah sudah ada di negeri ini.

  17. baru mandiri alias sendiri-sendiri di setiap RS Pak, belum 1 kesatuan/networking

    beberapa daerah ada jaringan yang baik tapi itu antara puskesmas dan dinas kesehatan, untuk upload data kesehatan.

  18. liberal terselubung ya Pak Dokter?
    RS kayak gitu harusnya dicabut izin operasinya, atau di-Omni-kan saja…
    Innalillahi wa inna ilaihi rooji'un… semoga arwahnya tenang di sisi ALLAH SWT, dan keluarga yg ditinggalkannya diberi ketabahan..

  19. hehe, terselubung tapi transparan

  20. Saya menunduk sedih, mendoakan ketenangan dan rasa nyaman terbebas dari sakitnya.
    Semoga pemerintah mengutamakan pembangunan ICU khusus untuk pengguna jasa Askeskin ya pak.
    Saya bersyukur masih ada dokter yang punya hati nurani jernih seperti mas Dodo.

  21. Ini yang paling menyebalkan.. kalau tidak niat kerja yang harus siaga setiap saat ya jangan kerja di ICU, ini berlaku bagi semua kru medis, paramedis, pekarya, pegawai administrasi, dll. Mungkin harus dibenahi sistem rewardnya untuk karyawan dan staf di UGD, dan ICU. Lelah dan malas memang manusiawi tetapi jangan pas jam kerja dong!

  22. Oleh karena itu kalau sampai di rumah saya lebih memilih tidur daripada bersosialisasi dengan masyarakat, itu untuk saat ini, bahkan ronda sudah 3 bulan tidak pernah ikut, ditambah lagi dengan waktu yang terbagi diberbagai tempat karena keluarga yang tercerai berai *curcol

    Saya menyadari kelelahan sangat berefek yang tidak mengenakkan pada pasien juga akhirnya. Kemarin sore saja saya kelelahan, menguap berkali-kali, akhirnya disiasati tidak terlalu menggebu-gebu ngomong ke pasien, cukup volume suara direndahakan saja dengan intonasi yang datar 😦 saya tahu mereka pasti ada yang kecewa tapi mau gimana lagi…

    Masalah remunerasi, saya setuju penuh, sebagian besar dokter dan juga paramedis masih ga layak. Kongres IDI di Medan Maret 2010 kemarin telah menetapkan standar minimal gaji dokter (umum) itu adalah 12 juta, dan saya kira itu masih sebatas usulan, ga tahu masalah advokasinya. Gaji saya? Alhamdulillah, yang penting masih cukup, meski belum masih bisa nabung… 🙂 di Jogja yang sudah layak gaji dokternya setahu saya cuma di RS PKU Muhammadiyah Pusat dan RS Panti Rapih. RS Pemerintah? hancur semua deh… 12 juta gaji itu bisa tercapai di kedua RS itu. Sedang yang lain para dokter harus mengoptimalkan potensi waktu praktiknya diberbagai tempat (maksimal 3 tempat, bahkan tidak jarang ada yang melanggar melebih 3 tempat, sedang saya cuma 2 tempat saja). Berdasarkan sharing saya dengan beberapa sejawat untuk di Jogja (dengan mengecualikan 2 RS Swasta besar tadi) pandapataan praktik maksimal yang bisa diperoleh cuma 7-8 juta saja per bulan. Ada yang bisa mentok 10 juta, tapi itu sudah melanggar 3 tempat praktik. Bayangkan betapa lelahnya bekerja di banyak tempat, ikut seminar bisa jadi waktu untuk istirahat dan tidur serta hanya sekedar memperoleh kredit poin…

    Beberapa hari yang lalu saya sempat lihat-lihat gaji spesialis ditempat saya, tertinggi adalah ortopedi, rata-rata di atas 20-25 juta per bulan, bahkan pada hari tertentu seperti lebaran bisa tembus angka 50 juta. Padahal itu baru sati tempat loh, bila ditotal dalam sebulan ortoped tersebut bisa berpenghasilan diatas 100 juta. Itu di Jogja loh, di kota besar katanya bisa milyaran satu bulan. Urutan kedua ditempati dokter kandungan, lalu bedah dan urologi, lalu selanjutnya oleh spesialis yang tidak memegang pisau operasi. Saya jadi pengen masuk ortopedi mba, entahlah kapan bisa terealisasi 😀

    Penghasilan yang fantastis yang saya tahu adalah dokter mata terkenal di Jogja, dr. Wasisdi (sekarang udah profesor) dan dr. Jantung (Prof Budi Yuli). dr. Wasisdi sehari saja bisa operasi katarak 30 pasien lebih, 1 kali operasi katarak cuma memakan waktu 5-15 menit, biaya per operasi 3-7 juta, hitung saja pengahsilannya sehari… Klo dr. Budi yang saya dengar sekali pasang stent/balon jantung bisa 20 juta lebih.

    Kapan saya bisa begitu? hehehe….

  23. Nah itu Do.. kalau untuk dokter, meskipun tetap harus distandardisasi (supaya dokter tidak pontang panting praktek >3 tempat, tidak main mata terlalu vulgar dengan pabrik obat, tidak seenaknya menetapkan tarif), harus diperhatikan juga para teknisi dan staf para dan nonmedis lain. Mereka mau cari tambahan di mana? Akibatnya ya itu kerja seenaknya, bilang ICU penuh (kaya hotel saja), atau ngotot kerja di dua tempat yang akhirnya kelelahan. Kembali ke para sejawat, saya juga kadang mikir para dokter yang “kejar tayang” itu jadi seperti tukang, setiap kali diundang acara, meeting, yang penting, sekalipun, jadi membandingkan waktu yang terbuang dengan “jika saya praktek saya sudah dapat…” Ya.. monggo saja, tapi kapan mereka punya waktu untuk membagi ilmu, bersosialisasi dengan sejawat lain, dan memikirkan hal – hal lain?
    Do.. kalau mau jadi kayak Dr. BY ya sekolah spesialis sejak sekarang dong.. jangan malah ambil S2.. 🙂 🙂

  24. diselesaikan satu-satu dulu mba, hehe, S2 itu supaya aku tetap idealis dulu, biar ga jadi tukang/kuli itu tadi, hahaha……jadi nanti bisa berpikir komprehensif.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s