tak terkategorisasi

aku terkapar di samping mayat pasien…tensiku ngedrop 90/60, ya Allah kuatkan hamba.. :-(


Iklan

44 tanggapan untuk “aku terkapar di samping mayat pasien…tensiku ngedrop 90/60, ya Allah kuatkan hamba.. :-(”

  1. ceritanya begini, sekitar pukul 16.30, aku mendadak migren sebelah kanan saat on duty di emergency unit, aku sadar ini pasti akibat aku ga sahur dan kurang masukan cairan malam sebelumnya, trus mulai gliyeng/limbung, keringat dingin dan pengen muntah alias mual. Padahal pasien emergency tumben lagi banyak-banyaknya, bisa dibayangkan kan…akhirnya aku selesaikan saja periksa pasien secepatnya sambil memaksakan berwajah tetap ramah dan tersenyum, mungkin malah kelihatan meringis…bayangin ada pasien sesak napas pada saat itu seperti orang tenggelam, segera aku beri instruksi obat aja secepatnya, syukurlah ga lama langsung sembuh… trus diawal-awal aku mulai migren, ada pesan penjemputan pasien di jembatan timbang truk, ternyata itu pasien seorang supir truk dari surabaya, dan sudah meninggal dan adiknya yang menemani tidak tahu klo dia sudah meninggal, dan dia kira hanya masuk angin biasa, dan terus saja dikerokin, padahal petugas dinas perhubungan menduga itu supir sudah ga bernapas… 😦

    Jelas saja, saat masuk UGD di RS-ku, perawat memberi kode ke aku klo pasien sudah lepas nyawanya alias death on arrival disingkat DoA (yah… tinggal didoa'in saja…). Sambil menahan sakit, aku lakukan pemeriksaan tanda vital, pengecekan kelistrikan jantung, refleks cahaya pada mata, tentu saja dibantu perawat-perawat, dan sudah hilang semua tanda-tanda kehidupan itu, dan sudah tidak bisa direcovery dengan resusitasi/bantu jantung dan paru karena sudah terlalu lama. Aku lakukan juga investigasi penyebab kematian bapak tersebut, ternyata dugaan terbesar adalah serangan jantung dengan ciri-ciri nyeri dada, keringat dingin, kepala pusing, dan herannya sebenarnya adiknya tsb mengerti kalau mas-nya itu kena masuk angin yg parah yaitu angin duduk. Nah istilah angin duduk itu aku luruskan adalah serangan jantung akibat gangguan pada pembuluh darah koroner yang mensuplai darah ke jantung… 😦 jelas saja terlambat kalau ga segera di bawa ke UGD karena akan cepat juga menyebabkan kematian batang otak yg tidak bisa recover.

    OK, setelah rampung segera aku duduk kembali karena baru ingat dengan kondisiku sendiri, sambil beri-beri instruksi dan menjelaskan ke adik pasien dan ke petugas perhubungan tentang kondisi pasien, prosedur pengurusan jenazah, dan persiapan ambulans untuk ke surabaya.

    OK, 2 jam jenazah diobservasi di UGD, nah, aku yang sudah ga tahan harus duduk terus, dan kalau mau batalkan puasa, tanggung banget, tinggal kurang lebih 1 jam lagi, ya udah aku ambil posisi yg nyaman, sambil duduk diam di kursi dokter, bernapas relaks, tapi karena dehidrasi dan konsentrasi lagi butuh tinggi, ya malah makin parah, udah hampir pingsan, pasti tensi ngedrop nih, aku pikir, trus bilang ke perawat, aku harus istirahat sebentar, lalu aku berbaring aja di salah satu bed di UGD, ya, tepat di sebelah jenazah pasien itu…dan minta ditensi, benar aja, tensiku drop: 90/60 mm air raksa, selama ini seingatku belum pernah saat periksa tensi dapat angka segitu, OK-lah aku mencoba bertahan, kira-kira tinggal 1/2 jam lagi berbuka, loh malah makin deras keringat dinginnya dan pandangan mulai gelap… 😦

    Ya, udah, terpaksa aku masukkan doping, minta tolong ke perawat memberi suntikan anti mual ke pembuluh darah vena di pergelangan tangan kananku, sekaligus aku minta memanggil petugas laboratorium untuk cek kadar gula darahku. Ternyata gula darahku masih normal, 110mg% dalam keadaan puasa. Berarti memang benar karena hipotensi saja dan dehidrasi, aku ingat, cuma tadi pagi saja pipis…

    Alhamdulillah, akhirnya azan maghrib terdengar, langsung minum 2 gelas teh manis dan order obat ke apotek dan segera aku telan tanpa air obat-obat itu. Dan untung pula, selama 1/2 jam menjelang berbuka, tidak ada pasien yg datang, lalu aku ikut sholat magrib dalam keadaan masih limbung dikit dan masih sangat terasa migrennya, habis sholat aku kembali duduk di ruang dokter. Migrennya belum reda dan masih mual, jelas, wong obat cuma lewat mulut, akhirnya aku minta tolng lagi perawat untuk menyuntikkan lewat pembuluh vena lenga

  2. makasih Guh, kasus cardiac arrest kemungkinan penyempitan pembuluh darah koroner/aterosklerosis, usia pasien 47 tahun, seorang supir, untung (ini aja masih untung…) meninggalnya di tempat yg aman, coba klo pas lagi nyetir benar, bisa-bisa terjadi kecelakaan hebat…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s