tak terkategorisasi

Udah lama ga periksa bagian vital wanita, sekalinya dapat kesempatan, hhh…tegang dan stres!


Iklan

71 tanggapan untuk “Udah lama ga periksa bagian vital wanita, sekalinya dapat kesempatan, hhh…tegang dan stres!”

  1. jadi, sore ini aku dapat pasien, seorang mahasiswi yang manis berusia 20 tahun, mengeluhkan ada benjolan keras di daerah anus (dubur).tidak nyeri, tidak berdarah.

    sudah periksa di puskesmas, dikatakan sakit ambeien/wasir/haemorrhoid dan sudah diberi obat.

    lah, dari situ aku udah curiga, trus aku tanya: “orang puskesmas sudah periksa di lokasi keluhannya?” dijawab belum, trus aku katakan belum pasti ambeien, bisa saja yang lain, dan dari gejala yang disebutkan kemungkinan besar bukan. trus aku tawarkan untuk periksa dulu: “kalau mba berkenan mau saya periksa untuk memastikan, dan kalau perlu dirujuk, akan saya rujuk ke spesialis”

    alhamdulillah (hehe…) dia spontan setuju…

    pasien lalu aku “giring” ke kasur (huahaha…, hayo jangan piktor ya…), aku perintahkan buka pakaian bawah, ambil posisi sujud, perlihatkan bagian yang dikeluhkan saja, trus, aku tutup kain kordin bed periksa. Tentu aku keluar dulu dong, masa mau melototin dia buka-bukaan…

    beberapa saat aku bilang: sudah? sudah, katanya… aku masuk bilik periksa, waduh posisinya salah, malah terlentang, o, my god! untung aku puasa hari ini.. astaghfirullah… ya udahlah, langsung aja.

    “OK, maaf ya, di mana yang benjol?”

    Dia menunjukkan…dst..dst…ga usah dirinci ya, takut malah pada piktor… :- b

    Dan benar, ternyata bukan ambeien dan posisinya juga bukan di dubur, tapi jauh dari dubur. Nah, coba kalo ga diperiksa…

    Sebenarnya hari ini aku bareng dengan seorang dokter cewek, tapi beliau kabur entah kemana…ya sudahlah akhirnya aku tawarkan aja untuk diperiksa, mana pasien antriannya luar biasa banyak lagi…

    tegang? ya iyalah, masih normalkan aku, apalagi udah lama ga periksa yang begituan…tapi masa ekspresi wajahku mau diperlihatkan ke pasien, ya, harus jaim-lah, hehe…

    stres, iya, sampai aku grogi ngomongnya, moga ga ketahuan, hehe…

  2. wah, SDM di sini sangat terbatas Dok untuk sore ini, 2 perawat laki-laki semua, 1 perawat wanita sibuk mendaftarkan pasien dan merangkap front officer, 1 orang asisten apoteker, 2 orang dokter, antrian pasien menggila semenjak lokasi klinik pindah k elokasi yg lebih strategis…pendamping pasien? lah itu cuma mahasiswi yang datang sendiri…

    kadang saya minta dilihatin perawat (sering distorsi), atau klo ada ya dokter cewek, tapi saya pikir kalo saya sendiri ga pernah lihat, suatu saat bisa berabe klo saya ketemu kasus yg sama, untuk partus/menolong persalinan saja sekarang saya sudah ga pernah, bagaimana klo suatu saat ada kondisi emergensi? padahal semua itu kan kompetensi dokter yang wajib dikuasai dan harus senantiasa diasah…

  3. emang dulu pernah? seru enggak melahirkannya? apa pasien yang “lurus” dan lancar melahirkannya? kok bukan di bidan/dsog, memangnya dokter umum boleh membantu persalinan???? (bukan partus sapi kan ya hehehehehe—kejadian waktu tsunami di aceh karena tidak ada tenaga medis yg memadai masyarakat sampai nekad minta diperiksa oleh Drh…. Drhnya bingung tapi akhirnya meriksa juga—-standar2 aja dikasih antibiotik dan vitamin aja obatnya selain itu dia gak berani )

  4. hehe, lost of story yah mba Orin?

    ada tuh penjelasanku panjang lebar, jangan baca ujunganya doang, hehe…

    dulu? ya jelas dong, sejak pendidikan kan kita harus dapat kasus real seperti itu, jadi ingat pertama kali di poli ginekologi, lihat selaput perawan pertama kali, para calon dokter begitu antusias, haha….

    dokter umum jelas punya kompetensi menolong persalinan, apalagi klo persalinan normal, sayang dokter laki-laki agak didiskriminasi oleh pasien dan lingkungan…

  5. wah…. jd dokter juga manusia… [dan pinter akting], slama ni M suka heran.. kadang klo tau dokter kandungan ato yg kasus kek td..periksa kok tetep bisa stel innocnet gt ya,. 😛

  6. iya, benar, bisa juga istilahnya: pinter akting. Tapi banyak juga dokter yang “kecemplung”: ngebet sama pasiennya (sampai ada yg menikahi setelah lihat bodi pasiennya, hehe…), memperkosa pasiennya (seperti kasus seorang artis yg dilecehkan/dipeluk oleh seorang dokter spesialis), diperkosa oleh pasiennya (ini klo pasiennya cowok psikopat) –> pernah ada dulu temanku 1 kelompok, cewek, periksa seorang pria yang kena sakit kelamin, malah itu penis laki-lakinya yg tegang lihat si calon dokter, temanku ya jelas panik, huahaha…, untung ga diperkosa…

    dokter terpaksa harus menahan emosi yg negatif dan sering sekali terlibat emosi yg menurunkan mental kerjanya, seperti empati yang berlebihan pada keluarga pasien yang meninggal, dan aku pernah ikut nangis dulu pas saat sekolah, pasienku yang keluarganya sudah akrab dengan aku, meninggal 😦 untunglah masih banyak bentuk emosi positif yang membuat dokter semakin bahagia, seperti pasiennya yang diobati sembuh dengan dramatis, terutama pasien-pasien di UGD.

    Kami memang diajari harus menghormati pasien karena merekalah guru kami di lapangan, bersikap profesional, walaupun mungkin dibelakang menggosipkan pasien, hehe…

  7. kenyataannya memang begitu, mereka yg cari-cari alasan seperti itu pada akhirnya terbentur fakta bahwa dokter yang menjadi bagian dari keluarganya tidak semudah itu memberi pertolongan langsung kepada saudaranya sendiri karena adanya faktor emosional, akhirnya juga diserahkan kepada dokter lain untuk diobati…

  8. ya luruskan niat aja, kembalikan ke tuntunan agama, pilih yang baik dulu akhlak dan keimanannya, jangan berusaha memaksakan kriteria kita, tetapi berusaha untuk menyiapkan diri menerima apa yang tersedia, pasti lebih OK dan nanti tidak akan kecewa melulu, karena persepsi tentang kriteria itu faktanya juga tidak akan sama dengan aslinya nanti, yakinlah…

  9. insyaAllah.. ada banyak hikmah dan pembelajaran… mulai dari pengelaman pribadi hingga orang lain…
    Barangkali Allah belum mempertemukanku dengan sang jodoh karena masih ada hal-hal yang mengotori niatku, maka Allah ingin agar aku membersihkan dan meluruskannya dulu. Barangkali Allah ingin agar aku lebih banyak belajar dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Berbekal keyakinan bahwa Allah akan memberikan yang terbaik di saat yang terbaik pula. Kalau kemarin aku sempat “memaksakan” kehendak kepada Allah, kini aku mulai memahami semuanya, aku pasrah, aku ridho, dan aku ikhlas.

    Saat ini aku ingin lebih banyak belajar lagi tidak mau lagi dikalahkan oleh nafsu, membangun generasi Rabbani juga peradaban Qur’ani dimulai dari diri sendiri… aku ingin memiliki dan memberi cinta setulus cintanya bunda Khadijah kepada Muhammad SAW, mengorbankan segalanya di jalan Allah, melangkah bersama di jalan jihad, semata untuk mendapatkan ridho Allah… aku ingin menjadi “KHADIJAH MASA KINI”..

    *maap, malah curcol dimari 😀

    betewe… kata mbakku malah kriteria yg kutulis malah kurang detail, apa krn gak ada kriteria “profesi” yak :))

  10. o, gitu, ya nyambung deh…

    udah dijawab kan…, dulu saat masih pendidikan sering menolang persalinan, baik mandiri maupun dengan bantuan. Klo sekarang…? karena aku praktik ga di daerah terpencil, ya udah ga pernah…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.