WidodoWirawan.Com

Hukum Rajam, Mengerikan Namun Sangat Efektif

25 Komentar


Tulisan ini hanya hasil mengutip saja, karena kebetulan malam ini belum bisa tidur, was-was ada pasien… :-D, lah kok aku ga sengaja browsing, dari kaskus baca-baca tentang rajam dan berlanjut ke tempat lain, syukurlah sebagian besar sebenarnya setuju dengan hukum rajam ini. Seandainya Indonesia bisa menerapkan hukum ini… aku yakin sepenuhnya ga bakal ada yang mengikuti jejak langkah Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari CS…

Aku pikir bagus juga diterapkan buat koruptor, tapi lemparnya pake uang koin gitu yah…hehehehe….
——————————————–

Hukum rajam adalah hukum yang di tetapkan dalam Islam. Hukuman ini memiliki sejumlah syarat yang berat. Untuk menuntut orang yang berzina, WAJIB dihadirkan 4 orang saksi yang adil dan bersumpah Demi Allah. Keseluruhan saksi ini WAJIB melihat perbuatan zina itu dengan mata kepala mereka sendiri, dan mereka melihat (maaf) kemaluan si lelaki masuk ke kemaluan perempuan. Kesaksian ke 4 saksi ini wajib menunjukkan kesamaan waktu, tempat, posisi dll, tanpa ada perbedaan satu sama lain.

Pelaku juga tidak dalam keadaan GILA, dan tidak dalam tekanan pihak lain. Jika semua terpenuhi, barulah si pelaku bisa diberi hukuman. Hukuman-pun harus diberikan oleh seorang hakim yang ditunjuk oleh Pemerintah (ulil amri). Tidak boleh dilakukan oleh milisi, ormas atau lembaga lainnya. jadi hanya bisa dilakukan jika hukum ini telah diakui oleh negara tersebut. Selain itu, maka hukum rajam tidak sah. Malah bisa dianggap sebagai pembunuhan.

JIka ada syarat yang tidak terpenuhi, maka tidak dapat dilakukan hukum tersebut. Misalnya, dalam sebuah penggerebekan di hotel, ditemukan 2 orang (laki dan perempuan) sedang bugil, berpelukan dalam selimut. Yang menggerebek berjumlah 3 orang. Karena pelaku berselimut, tidak dapat dilihat apakah (sekali lagi maaf) kemaluan masuk ke kemaluan. Maka dengan kondisi ini, syarat dijatuhkannya hukuman rajam tidak terpenuhi. Maka hakim tidak dapat menjatuhkan hukuman rajam. Bahkan jika saksi yang diajukan kurang dari 4 laki-laki, maka mereka yang menuntut malah dapat terkena hukuman menuduh orang berzina. Mereka justru yang harus di hukum.

Perlu diketahui juga bahwa di zaman Rasulullah belum pernah terjadi orang yang dirajam karena ketahuan atau tertangkap basah. Yang ada adalah orang yang mengakui perbuatannya. (lihat Sirah Mubarakfury). Dan para ulama menganjurkan orang yang berzina untuk bertaubat, taubatan nasuha, dan tidak menceritakan perbuatannya kepada orang lain.
Wallahu a’lam.

Sumber tulisan dan gambar: http://www.blogpopuler.com/pria-ini-di-lempari-sampai-mati-karena-berzina/ (Catatan: ini sebenarnya penerapan hukum rajam yang salah karena tidak dilakukan oleh institusi yang berhak….)

Iklan

25 thoughts on “Hukum Rajam, Mengerikan Namun Sangat Efektif

  1. wah, yang pada ngintip… klo pernah berselingkuh sampai berzina, ga apa-apa kok klo ga ketahuan, dan ga usah ngaku ya… 🙂 bertobat aja dan mengakui dalam hatinya, huahahaha…ups! sorry, kepala puyeng nih, mau tidur malah ada pasien, ya udah sahur aja sekalian…sahur….sahur… :-b

  2. hehe ga bisa komen juga…
    habis katanya juga negara yang bisa menerapkan hukuman begitu kalau pemerintahnya udah bersih, jujur dan adil pada rakyatnya, lha apa kabar negara kita yak?

  3. jd mikir, pernah ada riset g y? negara yg menerapkan hukum rajam, apakah angka penularan AIDS* ny rendah?

    *nice ^^b

  4. serem….cuma orang yang yakin gak berdosa and hidup bersih yang boleh merajam…memang ada(tanyakenapa)
    😀

  5. sepertinya begitu mba…
    karena nanti kan takut mereka kena batunya sendiri, tapi kalau kasusnya seperti di Cina, aku kira OK, aja, apalagi kalau presidennya berani ngomong: anak saya dirajam saja bila memang berselingkuh, hehehe…

  6. Aku ada beberapa datanya. Yang pernah dan masih melaksanakan hukum rajam: Iran (estimasi kasus HIV 86.000 orang), Arab Saudi (kasus HIV 13.926 orang, 3.538 di antaranya Arab asli), Sudan (estimasi kasus HIV tidak ada data), Pakistan (estimasi kasus HIV 320.000 orang), Nigeria (estimasi kasus HIV 2.600.000 orang), Afganistan (estimasi kasus HIV tidak ada data).

    Bila melihat dari data tersebut tidak dapat ditentukan/atau disimpulkan bahwa penyelenggaraan hukum rajam bisa menurunkan kasus HIV secara langsung. Karena faktanya justru di negara maju yang sekuler, kasus HIV/AIDS lebih rendah. Ini lebih kepada faktor kemiskinan dan kesadaran akan bahaya HIV/AIDS.

    Indonesia, estimasi kasus HIV-nya: 270.000 orang. Parah kan? Bandung, yang terkenal dengan cewek-ceweknya (maaf) merupakan daerah tertinggi kasus HIV.

    Hukum rajam adalah untuk membersihkan jiwa pezinah agar ia tidak diazab di akhirat nanti, bahkan hukum rajam bisa dibatalkan jika pelakunya mengaku bersalah dan taubat nasuha.

  7. Hukum rajam memang hukum Tuhan, kejam menurut kita, tetapi Tuhan lebih mengerti apa yang baik buat manusia. “Boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal sebenarnya itu tidak baik bagimu, dan boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik dan menyelamatkan bagi kamu”. Bahkan dalam kitab suci Kristen ada hukum rajam. Namun bila yang dimaksud dengan hukum rajam dalam hal ini, maka yang boleh dihukum hanya orang Islam saja. Di Aceh, banyak salah penerapan syariat. Orang non muslim seharusnya tidak termasuk yang diatur dan mereka berhak mengatur diri mereka bahkan sesuai dengan hukum agamanya masing-masing. Contoh, harusnya orang non muslim di sana tidak diharuskan memakai jilbab atau penutup aurat sesuai yang ditentukan syariat Islam.

    Orang pelaksana/algojo/eksekutor hukuman tidak harus orang yang bersih dari dosa, dan memang tidak ada yang bersih dari dosa, namun setidaknya dia sudah ditugaskan oleh negara menjadi eksekutor. Dan ini sah. Apa hakim dan polisi kita bersih dari dosa, bahkan oknum dari mereka banyak yang lebih parah dosanya.

  8. merucut lagi ke kualitas pendidikan ya,, hmm gitu,,
    infonya bagus pak,, terimakasih 🙂

  9. ya, efektif membakar dosa, efektif untuk peringatan bagi yang mau selingkuh (pasti akan lebih hati-hati biar ga ketahuan, ya minimal ga gembar-gembor ke publik yang akan memberi contoh jelek kepada orang lain) Tapi keefektifan ini kan ga berdiri sendiri, ia juga dibentuk oleh kesadaran masyarakat dan keberanian pemerintah…

  10. kalau buat kondisi sekarang, saya kok rada sangsi atas efektivitasnya ya. Sorry to say ya. Bukannya bermaksud buat menyangsikan atas ketentuan Allah, tapi dengan iklim global yang terjadi saat ini, yang terjadi malah melihat bentuk hukuman itu sebagai suatu hukuman “model lama” yang tidak modern.

    Dalam pelaksanaannya, seperti yang mas ambil contohnya kan dilakukan oleh milisi terhadap seseorang yang membantah melakukan perbuatan zina. Saya sendiri tidak tahu persis kasusnya seperti apa. Apakah dalam hal itu sudah ada 4 saksi yang adil, atau malah baru ketahuan pacaran/berduaan sama seorang perempuan, langsung dikubur dan dilempari batu. Teknisnya sulit. Bahkan pada jaman Nabi sekalipun cuma satu/dua kasus yang dihukum rajam. Itupun karena orangnya mengaku.

  11. iya, mas Wikan, saya setuju. Banyak penerapan syariat yg salah kaprah seperti yang aku contohkan, makanya jadi tidak efektif. Aku menduga yang di Somalia itu kan masih dugaan, ga jelas ada saksinya. Ada kasus lain yang paling tepat mirip zaman Nabi, yaitu di Nigeria, di sana rakyatnya mendukung penerapan syariat, kasus rajam yang terjadi karena pengakuan pelaku, itu pun sudah di suruh taubat dan mencabut pengakuannya oleh pengadilan, tapi pelaku menolak, ia ingin disucikan saja lewat rajam, dan akhirnya ya dirajam gitu. Hukum mati yang menggegerkan di Cina secara fakta tidak menjadikan Cina bebas korupsi, tapi indeks korupsi mereka menurun dengan tajam. Ini kan ada niat dari pemerintah sana untuk memperbaiki penegakan hukum. Di negara dengan penerapan hukum rajam tidak ada yang namanya lokalisasi WTS, walaupun tidak menutup tetap ada pelacuran, buktinya orang arab banyak terkena, walaupun itu diindikasikan karena mereka “jajan” di luar negeri.

    Sehingga kesimpulan saya, penegakan hukum syariat adalah efektif bersyarat sebagaimana dicontohkan pada zaman Rasulullah.

  12. Yang terjadi sekarang adalah, zina sudah digembar-gemborkan ke hadapan publik dan menjadi contoh yang sangat jelek buat orang lain, sehingga menjadi dosa dianggap biasa saja. Minimal bukan hukum rajam yang diterapkan, masih banyak turunan hukum syariat yang lebih ringan yang dapat dilakukan, misalnya pemboikotan pelaku, dsb. “Kehebatan” penegakan hukum di barat dan banyaknya aturan yang mengatur sendi kehidupan bermasyarakat, termasuk masalah merokok, pornografi, perlindungan anak, ada semua, bandingkan dengan negara kita, yang sangat-sangat bebas. Ya, intinya hukum positif saja tidak berjalan dan tidak lengkap, bagimana kehidupan bermasyarakat dan bernegara menjadi baik?

  13. di tengah masyarakat yang moralnya bobrok, pemerintahnya korup, maka hukum apapun malah bisa di-abuse. mau hukum potong tangan atau dirajam juga menurut saya ga bakalan ngefek. yang kena paling lapisan bawah masyarakat. sama aja seperti penerapan syariah di daerah2 Indonesia. yang kena lagi2 kaum perempuan. disuruh berjilbablah, gak boleh keluar malamlah, yang artinya membatasi gerak perempuan karena mereka pihak yang paling lemah dalam struktur sosial masyarakat. sementara masalah hukuman untuk koruptor etc nomor kesekian. kalau pejabat yang melanggar masih bisa melenggang kangkung, tapi kalau rakyat kecil yang melanggar hukumannya minta ampun.

  14. di cina efektif, karena disupport oleh perdana menteri dan ketua partai komunis. dengan struktur sosial masyarakat di mana boss adalah panutan maka cina bisa melaksanakan hukum secara efektif dan langsung dipatuhi oleh golongan ke bawahnya.

  15. menurut saya yang pertama2 ditegakkan adalah kalimat tauhid, La illaha illallah muhammadarassulullah. Kalau udah tegak di hati setiap umat mukmin maka mau bertindak apapun dipastikan karena Allah. Jadi orang melakukan/tidak melakukan sesuatu karena takut pada Allah, bukan takut pada hukuman. Hukuman itu dijalani untuk menebus dosa. Kurang lebihnya saya mohon maaf.

  16. terimakasih, aku setuju kok 🙂

  17. Ya, terlihat bar-bar, harusnya bisa dibuat lebih elegan… 🙂

  18. Hello Sweety,

    Greetings,
    Herman.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s