dokter, rokok

Dik…boleh merokok, tapi….


Ini dialog singkat ketika menerima keluhan seorang mahasiswi dan juga seorang mahasiswa yang berobat karena batuk-batuk lama, nyeri pada tenggorokannya, dan sesak napas. Ya, mereka mengaku sendiri klo merokok aktif dengan intensitas tinggi. Ini contoh pasien yang baik, belum ditanya udah menjawab…hehehe

“Aduh Dik…kenapa masih merokok, ga kasihan apa, sama badan sendiri…?”
“Iya, Mas…ini juga udah mulai dikurangi”
“Bagus, klo bisa ya distop, kasihan kan badannya, apa mau bergaya, klo sakit gini kan ga keren lagi?”
“Engga kok, sudah kebiasaan kali Mas….” (aku: sama aja kan…hehehe)

Terus terang, aku sebenarnya miris plus kasihan, plus “benci” sama perokok. Selain merugikan orang lain, ya itu tadi, kok ya ga mikir, klo dah sakit, kan jadi susah gitu…
Jadi, pas momennya tepat gini sekalian aku beri edukasi deh, biar bisa lebih dipikirkan apa yang telah mereka lakukan.

Jadi silakan saja merokok jika siapa dengan konsekuensinya… (tapi mbok ya aku ragu gitu…)

Konsekuensi merokok:
1. Kantong cekak (dalam setahun bisa menghabiskan duit jutaan bahkan puluhan juta rupiah)
2. Membawa orang lain menderita sakit
3. Jadi kebiasaan (karena mungkin awalnya cuma coba-coba, “pengobat” stres)
4. Mulutnya bau (mungkin hanya sesama perokok yang suka baunya)
5. Habis uang buat berobat
6. Menimbulkan penyakit jantung dan pembuluh darah
7. Menimbulkan kanker paru dan saluran napas
8. Sekarat
9. tambahin ya…
10. tambahin lagi ya…hehehe
11.Masuk kubur

Sekedar catatan: salah satu dosenku dulu meninggal akibat kanker nasofaring/saluran napas karena beliau perokok berat, sejak itu ada peraturan di fakultas kami, wilayah bebas rokok dan asap rokok, kecuali bagi yang mau merokok disediakan di samping kandang hewan percobaan (sekalian ikut jadi manusia percobaan….masih juga ga mau mikir!!)

Gambar dicomot n dikrop dari sini

Iklan

14 tanggapan untuk “Dik…boleh merokok, tapi….”

  1. ya deh ku tambahin….
    9. menzalimi diri sendiri & orang lain
    10. termasuk orang tak bersyukur. udah dikasih tubuh lengkap bin sehat binti gratis lagi, kok mau2nya merusak tubuhnya sendiri 😦

  2. jadi kepikiran: klo kita make masker (apalagi masker model anti-gas kimia gitu) di depan mereka, terus bawa obat nyamuk bakar yang banyak gitu…berani ngelarang ga mereka?? πŸ˜€

    paling gini ke mereka mba: “mas-mas/pak-pak, boleh marah ndak?? ” :-b

  3. aku paling kipas2 jengkel kalo ada orang ga kenal mulai ngerokok di deketku, kayak kalo di kereta gitu misalnya, aku bakal bilang “mas/pak, saya gak bisa kena asap rokok, maaf…”
    kalo dia jawabnya “oh maaf” trus matikan rokok, gue pasti akan ajak ngobrol deh
    kalo jawabnya “lho ini kan tempat umum, hak saya buat ngerokok donk”
    pasti gue jawab “iya saya juga punya hak untuk gak ngisep asap rokok mas/bapak”

    rata2 kalo orangnya 'kampungan', pasti dengan semangat jawab lagi:
    “lho saya beli rokok pake duit saya sendiri ga minta sampeyan”
    wah pasti gue kalo lagi ga mood tengkar langsung angkat kaki dari situ
    tapi kalo lagi semangat juga bales “heh yang duduk sini saya duluan, sana jauh2 duduknya dari saya!!!”

    wakakakkaka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.