WidodoWirawan.Com

Fitnah menjadi seorang dokter…. bagian ke-2 (tamat)

42 Komentar



Bagian pertama silakan baca di sini

Menyambung perihal salah paham/kaprah terhadap dokter….ini tanggapanku:

Salah paham I
Sebenarnya tidak semua dokter itu harus buka praktik (buka warung… hehehe). Karena sesungguhnya ada banyak saluran kerja bagi mereka yang lulus dari sekolah kedokteran, bisa jadi peneliti, bisa jadi dosen, bisa jadi birokrat, bisa jadi artis (hehehe). Di dunia kedokteran sendiri dikenal dua jalur karir yaitu profesi (klinisi, jenjang spesialis, private health ) atau akademisi (termasuk menjadi dosen, peneliti, atau birokrat, biasa di sebut aliran public health). Jalur klinisi biasanya praktik pribadi atau kerja di instansi pelayanan kesehatan seperti puskesmas dan rumahsakit, sedang jalur akademisi biasanya kerja di institusi pendidikan atau lembaga konsultan. Tetapi tidak mesti begitu, karena banyak yang menggabungkan keduanya. Birokrat dalam hal ini bahkan bisa berasal dari kedua jenis jalur tersebut.

Salah paham II
Menurutku, dokter memang profesi mulia, karena terkait dengan menyelamatkan hidup/nyawa manusia. Untuk ukuran Indonesia memang dokter masih dianggap sebagai kaum “terpandang”, aku pun sulit memungkirinya. Pernah pas pulang kampung saja, aku naik sepeda jalan-jalan, malah diceletuki: “Dokter kok naik sepeda sih….?”
Nah, inilah yang salah menurutku, masyarakat kita sendiri ternyata berperan besar memperbesar stigma/stereotype/citra yang demikian. Sehingga akhirnya wajar saja dokter tiba-tiba tidak tahan dengan image tersebut, bahkan bisa menjadi buas, “melahap” pasiennya. Sebagai gambaran saja, sebagian dokter terkonsentrasi di kota besar. Di Jakarta saja terdapat lebih kurang 20 persen dokter spesialis dari total jumlah dokter spesialis di Indonesia. Bayangkan….apalagi kalau bukan demi yang satu itu….. **mirisss**

Selain itu, kalau mau menjadi kaya sekaya-kayanya, sebenarnya tidak selayaknya memilih profesi dokter, karena sangat mungkin akan terjadi penyimpangan-penyimpangan seperti kolusi dokter dengan pabrikan farmasi, pembodohan pasien, dan yang lebih parah terjadi malpraktik.

Salah paham III & IV
Yah, kalau dapatย  (pengen nyari) jodoh seorang dokter itu sesuatu yang heboh en asyik, ya boleh-boleh aja sih. Cuma itu….alasannya banyak yang ga masuk akal gitu. “Biar bisa ada yang mengobati kalo sakit…” Menurutku ini alasan terbanyak. Termasuk aku sendiri dulunya juga dianjurkan oleh ortuku masuk sekolah kedokteran, karena alasan yang satu ini, belum ada keluarga kita yang jadi dokter…. ” :-b
Kenyataannya seorang dokter pada akhirnya sering tidak bisa mengobati bila ada anggota keluarganya yang jatuh sakit, karena berbagai alasan etis dan emosional, takutnya ntar bukan akal sehatnya yang jalan ketika mengobati. Atau begini, aku sendiri pernah nawari sepupu kecilku yang mo khitan, sama aku aja…tapi toh dia-nya yang maluww ๐Ÿ˜€

Alasan berikutnya tentu saja alasan prestise! entahlah kenapa bisa begitu. Padahal istriku sendiri aja tidak pernah bercita-cita mendapatkan jodoh (bahkan cenderung alergi dengan) dokter. Sama sih dengan cita-citaku, tapi di akunya berhasil ga dapat dokter, di dianya malah gagal..hehehe….

Iklan

42 thoughts on “Fitnah menjadi seorang dokter…. bagian ke-2 (tamat)

  1. komentar picnya : dokter apa tukang jagal yah..

  2. hahahha…iya….tukang jagal gitu looo…..:-))

  3. aku kerja jadi asisten manajer keuangan lhoooo padahal nggak pernah belajar keuangan samsek dikedokteran….

  4. hmm.. gitu ya mas
    kalau sudah stereotype rada repot emang ya…

  5. lha gambarnya kok penjagal gitu seyeeemmm ahhhh

  6. Menurut Dr.Tridjoko “Profesi kesehatan saat ini sungguh menjadi perhatian masyarakat, karena dari kegiatan-kegiatannya dipandang dapat menghasilkan โ€œkeuntunganโ€ yang besar. Banyak pihak yang melihat kegiatan pelayanan kesehatan serupa benar dengan โ€œperindustrianโ€, bahkan menyebutnya industri kesehatan.” Nah, karena dipandang dapat menghasilkan keuntungan yang besar, berlomba2 lah orang untuk menjadi dokter, baik yang karena minat pribadi maupun paksaan lingkungan. *gak heran nih biaya pendidikan di FK makin mahal, bahkan waktu bincang2 terakhir dengan Prof. H, dekan FK, untuk sumbangan masuk di S1 udah dibatasi antara 3 sampai 25 jt, eh tetap aja waktu ngisi kolom sumbangan para calon mahasiswa nulisnya jauh melebihi batas itu.. wahh..
    Mengingat misi pelayanan kesehatan semula dari jaman Hipokrates, yaitu mengemban peran sosial secara kental, mudah2an kita tak terjebak dengan fitnah2 tadi..

  7. ada seorang temen iseng..
    dia bilang doa yang paling g baik itu adlah doanya dokter..
    pada saat dia berdoa kepada Allah ” ya Allah mudahkanlah rezeki ku esok hari”
    artinya dia meminta agar esok hari ada orang yang sakit agar bisa berobat kepada nya..:D

  8. huehuehue.. jadi inget, dulu sebelum nikah nyokap doyan banget ngejodoh2in aku sama dokter.. trus pas nyatel satu dokter anak temen nyokap eeh dianya yg mundur katanya kalo nikah bukan dengan sesama dokter dia bakal susah.. *gubraxxx* dari situ malesh banget dehhh kenalan or dikenalin sama dokter..

  9. hehehehehheheheh dokter…. dokter….. sekarang emang makin mahal. yang enggak mahal gak up to date. masa orin sakit rubela dibilang tipus. minum obat segepok panas gak turun gatal2 makin menghebat. ternyataaaaa rubela. karena kelamaan diobatin yang bener jadinya udah beredar serumah, anak2pun ikutan kena rubela. hiks.
    jadi, pemerintah indonesia gimanasih kepeduliannya terhadap pemerataan kuatlitas pelayanan kesehatan…
    (kok malah oot)

  10. Tapi sepertinya FK di Indonesia tidak terlalu mengarahkan mahasiswanya untuk mendalami pilihan karir yang kedua ini ya. Ini pendapatku lho, mohon maaf kalau salah.

    Aku pribadi, pengen banget bikin suamiku tertarik dengan penelitiaan, tapi sampe saat ini masih belum berhasil ๐Ÿ˜ฆ Soalnya dia tipe klinisi banget. Padahal kalo aku, pengennya dia ke penelitian biar bisa kolaborasi berdua (hehehe… maunya ๐Ÿ˜‰ ).

  11. ya itulah…kadang dokter bisa jadi “tukang jagal” pasiennya ๐Ÿ˜ฆ

  12. Ini klo dokter yg ga tahan dengan fitnah di atas loh mba… ๐Ÿ™‚ ya, jadinya tukang jagal gitu…

  13. Hehehe…asal ga jadi manusia berwatak “nonmanusia” aja…you know lah mba… ๐Ÿ˜€

  14. sebagian besar dokter di Puskesmas/RS kan emang ga dapat pelajaran hal2 begitu… ๐Ÿ™‚ jadinya memang harus menyesuaikan ya… ๐Ÿ˜€

  15. sebagian besar dokter di Puskesmas/RS kan emang ga dapat pelajaran hal2 begitu… ๐Ÿ™‚ jadinya memang harus menyesuaikan ya… ๐Ÿ˜€

  16. gak kerja di pusekesmas… ho ho ho…. kerja di fakultas…. he…he….

  17. Nasihat Almarhum Ibuku (dokter) dulu,”Kalau niatmu pengen kaya, jangan jadi dokter, jadi pedagang aja.. kalau mau jadi dokter, niatnya harus bener, nolong orang..Soal rizqi itu bukan urusan dokter, urusan Tuhan..”

    *Saking berkesannya, nasihat ini aku ingat setiap kata*

  18. Iya, ini kan bentuk diskriminasi juga yah…mempersulit hidup dokter…hehehe..

  19. sengaja mba, biar mengingatkan diriku pribadi jangan jadi “penjagal” ๐Ÿ˜€

  20. lebih parah lagi, biasanya ortunya yg udah dokter biasanya anaknya juga pengen jadi dokter untuk meneruskan imperium ortunya ๐Ÿ˜ฆ
    aku membayangkan coba pendidikan dokter ini gratis seperti di beberapa negara, wah, pasti efeknya besar bagi kesehatan rakyat…

  21. astaghfirullah… tapi klo berdoanya netral aja ya gpp dong…. masalah rezeki kan sudah ditentukan. Seharusnya memang dokter itu berdoanya “semoga masyarakat sehat-sehat saja, sehingga dokter bisa berkonsentrasi untuk sektor pencegahan dan promosi kesehatan”

  22. Iya, memang ini sebagian besar alasan para dokter yang pasangannya juga dokter, tidak ingin direpotkan dengan kesalahpahaman terhadap profesi dokter yang rada rumit dipahami. Misal: jam kerja dokter lebih sering tidak teratur dan tidak banyak waktu santai untuk pasangannya…

  23. hehehe, mudah2an tidak mencerminkan aku…..

  24. Iya, karena untuk strata 1 di Indonesia ada dua institusi yang berseberangan yaitu FK (klinisi) dan FKM (kesehatan masyarakat), sehingga outputnya juga menjadi orang yang parsialis…

    Yeeee….selamat “memaksa” suwami, semoga berhasil… ๐Ÿ˜€

  25. Iya, termasuk yang kerja di fakultas…hahaha…

  26. iya, ini yang paling tepat untuk melukiskan “kegalauan” masyarakat tentang profesi dokter. Harusnya ini lebih sering di sosialisasikan…

    Pantesan yo mba, kowe nyante bgt!! :-b

  27. kucing hetsotnya lucu…..
    *lebih oot*

  28. yah berbuat sebisanya, ya bisa dilakukan ya dilakukan..
    *uh, ngomong sih gampaang yak, hehe*

  29. Tidak hanya dokter kok yang didera fitnah, sepertinya di semua tempat kerja ada fitnahnya masing-masing yang berbeda tentunya. So, dimanapun kita berada tetaplah pada satu niat. OK?

  30. sedikit sharing, utk hal satu ini *diluar konteks benar enggaknya-tergantung pribadi kali ya* kalu mau itung2an hhmmm lumayan gede juga, bias dibilang membuka praktek dirumah bisa menjadi lahan basah yg basah banget :D… misal nih ya praktek pagi terima 40 pasien *sialnya saya selalu dapet nomer buncit ini ๐Ÿ˜€ mau pagi mau sore* dan sore kadang ada yg sampai 50 lebih tapi ambil aja 40 pasien. satu pasien dicharge Rp. 60.000 (diluar obat), bisa dihitungkan sehari bisa dapet kurleb Rp. 5 jt kaliian aja lagi sebulan heuheuheueheu… jadi pantas saja kalau masyarakat masih memandang bahwa profesi dokter iut memang menjanjikan sekali :D, kalao aanak2ku mau saya juga gak nolak kok punya anak2 dokter ๐Ÿ˜› ya maksudnya ikut seneng aja gitu tapi kepikiran juga biaya sekolah dokter kan juga naudzubillah ๐Ÿ™‚

  31. Iya, mba Ida…sangat basah sebenarnya praktik pribadi itu, tapi sayangnya pasti jika pasiennya banyak sekali dalam waktu praktik yang sangat singkat seperti itu, bayangkan aja, pasti pasien tidak puas. Jadi hubungan dokter dengan pasien hanya sebatas tukang obat dan konsumen, bukan pendidik untuk jangka panjang kesehatan pasien.

  32. Saya masih beruntung, karena waktu itu tidak ada uang kuliah.
    Saya malah memperoleh uang ikatan dinas sebesar Rp. 400 sebulan. Cukup lah untuk hidup pas-pasan.

  33. aku seorang lelaki yg hidup penuh dengan kesederhanaan, pd satu saat aku di goda seorang dokter akan tetapi aku sadar siapa aku? tp di blk semua itu aku berprasangka baik, mungkin dia hanya iseng atau aku yg gr saja. tetapi mungkinkah seorang biasa saja mendapatkan seorang dokter? mudah2an sj dia jatuh ht pd aku yg tak mempunyai kelebihan apa2..

  34. salah satu contohnya…hehe…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s