livinginjogja, selingkuh

Aku tidak akan berselingkuh, istriku….


Judul di atas merupakan bentuk azzam/komitmenku yang hanya aku lafazkan di dalam hati, karena aku sungguh mencintai istriku, dan rasanya tidak perlu dizahirkan (diucapkan) kepada istriku itu, karena menurutku tidak ada gunanya… (tidak ada hubungnya dengan bab romantis…hehehe…)

Mengapa hal ini senantiasa terbersit, tidak lain secara satu minggu ini, kok yang selalu masuk ke kupingku seringnya tentang topik selingkuh ya… ? aneh…aneh…
Di mulai ketika shalat Jumat kemarin , khatibnya berkhutbah tentang selingkuh, atau berzina, sebagai hal yang (sudah) dianggap wajar. Tema ceramah sebenarnya “mengapa banyak di antara kita sudah mengerti ilmu agama, sudah tahu apa saja hal-hal yang menyebabkan dosa, tetapi kita bersikap ANOMALI, bersikap menyimpang”. Aku ga kenal siapa khatibnya, sepertinya salah satu dosen teknik, karena cukup banyak istilah teknik yang keluar…

Kemudian di hari-hari lain, ada “gosip” panas beredar di sekitarku tentang seseorang yang baru ku kenal, tapi sebenarnya beliau sudah sangat terkenal kok, akunya aja yang kuper…hehehe… Beliau beristri dua, menurutku tidak ada salahnya beliau melakukan begitu, toh beliau sangat mampu. Cuma, yang di sayangkan (ini bukan menurutku, tapi gosip-gosip yang beredar itu) cara menuju pernikahan dengan istri keduanya itu. Istri pertama beliau yang merupakan istri sejati (menurutku) telah mengalami sakit yang lama (lebih kurang sepuluh tahun). Beliau menderita sejenis penyakit autoimun (aparat kekebalan tubuh menyerang tuannya sendiri), yang bersifat progresif (perlahan tapi pasti akan menyebabkan kematian…) dan memang kematian itu telah menjemput istri beliau itu, sekitar satu setengah bulan lalu. Sungguh disayangkan (sekali lagi menurut gosip itu), ternyata beliau diam-diam menikahi seorang janda beranak (beliau juga telah dikarunia anak yang cukup banyak). Padahal istrinya dalam keadaan sakit yang parah itu. Wallahua’lam, apakah kematian istri pertama beliau “dipercepat” setelah memendam rasa sakit hati yang memang amat menyakitkan itu…

Ya, memang tidak ada kewajiban bagi sang suami untuk melapor pada istri pertamanya ketika akan menikah lagi, tapi kondisinya itu yang amat sangat disayangkan…. Apalagi ada cerita bahwa istri kedua beliau itu bukanlah “orang yang baik-baik”, setidaknya menurut komunitas yang mengedarkan “gosip” ini”. Istri kedua ternyata bercerai dengan suami pertamanya tidak dengan baik-baik (entalah ada masalah apa…). Dan “katanya” pernikahan terjadi sebelum lewat masa iddah (masa menunggu, lihat di sini) selesai. Sehingga ada dugaan, mereka telah berselingkuh selama masa istrinya sedang sakit (perlu diketahui, istri kedua adalah asisten beliau di tempat kerja). Dan akhirnya anak-anak beliaulah yang jadi korban, secara di awalnya juga, anak-anak beliau tidak menerima keberadaan ibu kedua itu. Yah, akhirnya anak-anak juga yang jadi korban, generasi mendatang yang penuh dengan trauma akibat perbuatan orang tuanya.

Dan hari ini, aku tak sengaja menyimak acara curhat di “Female Radio” Jogja. Sang curhator (hehehe…benar ga ya istilahnya…), seorang wanita, bercerita tentang suaminya yang ketahuan berselingkuh dengan rekan tempat kerjanya, seorang tenaga medis. Alasannya simpel saja kenapa berselingkuh: karena sang istri tidak mampu memberikan anak setelah menikah selama 4 tahun. Ya, Allah… sungguh kasihan benar kaum wanita kalau hanya dijadikan objek seperti ini… Parahnya lagi, ketika si suami sakit, dan si istri menjenguknya, disuruh mengaku sebagai saudara perempuan si suami, karena selingkuhannya ada di situ, menunggui….sungguh tragis!! Solusi bercerai tidak mampu ditempuh oleh calon ibu ini, karena image di masyarakat tidak mendukung.

Memang zaman ANOMALI, mau dikata apalagi…??

Gambar di ambil dari http://tiraikasih.tripod.com/selingkuh.jpg

Iklan

30 tanggapan untuk “Aku tidak akan berselingkuh, istriku….”

  1. saya menanti kehadiran anak pertama selama 7 thn.
    alhamdulillah selama dalam masa itu tak sedikitpun terbersit keinginan utk menikah lagi, bahkan saya marah saat istri menyatakan bahwa dia akan mengizinkan kalo saya ingin menikah lagi.
    buat saya menikah adalah sekali seumur hidup… πŸ˜‰

  2. Hayah mau-maunya itu si curhator disuruh ngaku sodara perempuan suaminya sendiri, ini suaminya yang ga bener diatas angin. Kalo kamu, aku dah yakin dah tau agama dan mengimani, semoga tidak berubah ditelan zaman yang anomali ini. Suami istri jadi saling menguatkan satu dan lainnya.

  3. Hayah mau-maunya itu si curhator disuruh ngaku sodara perempuan suaminya sendiri, ini suaminya yang ga bener diatas angin. Kalo kamu, aku dah yakin dah tau agama dan mengimani, semoga tidak berubah ditelan zaman yang anomali ini. Suami istri jadi saling menguatkan satu dan lainnya.

  4. suami nikah lagi emang gak perlu ijin istri kok. nikahnya tetep sah dan halal.
    bab istri pertama sakit hati, itu bab lain yang harus dibahas secara terpisah dengan pembahasan poligami.

    idealnya suami udah menyiapkan istri dan yakin sang istri tak akan terluka.

    kalo suami nyunah dan berpahala, sementara istri sakit hati, tentu suami juga dapat dosa menyakiti hati istrinya bukan? apalagi kalo juga menyakiti anak2 kandungnya sendiri… makin banyak deh dosanya. jadi bisa2 pahala yang dia dapat dari pernikahan keduanya habis kebabat sama dosa ke istri pertama dan anak2. namanya besar pasak daripada tiang.

    (loh kok malah muter2)

  5. ….”karena aku sungguh mencintai istriku, dan rasanya tidak perlu dizahirkan (diucapkan) kepada istriku itu, karena menurutku tidak ada gunanya”…
    Kadang- kadang, rasa cinta pada pasangan perlu dizahirkan lho… he he…
    oh ya salam buat istrinya, saya satu kantor ama kakaknya istri pak dodo and dulu pernah ikut kaLAM juga….

  6. klo buat perempuan iya kali ya… πŸ™‚ maksudnya aku bukanlah orang yg romantis secara kata-kata…. πŸ˜€
    Mmmhhh, kenal bgt brarti yaa, sama kakak iparku? dulu PSIK ya mba? kok aku ga kenal sih? angkatan berapa ya?

  7. :-))) setelah liat2 di FS, kayaknya memang aku sering liat Yunita ya…
    mba wahyu ntar lagi main ke Jogja kok…pasti deh aku omongkan… πŸ™‚ maksudnya “kenal ga sama Yunita” gitu πŸ™‚

  8. klo seorang teman yang ga kenal aku lebih aneh lagi. 10 tahun ga punya anak, trus akhirnya cari istri kedua, eh, malah hamilnya barengan istri pertama dan istri keduanya, haha, apa semacam pancingan gitu yah…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.