WidodoWirawan.Com

Jakarta STROKE lagi (versi lain sebuah headline media massa: "Jakarta paralyzed, again")

2 Komentar


Sedikit miris juga ketika harus menulis ini. Dan mungkin sudah sangat banyak yang membahasnya. Tapi ku pikir biarlah ini sebagai pengingat bagi diriku sendiri. Di TV ku lihat berbagai bencana terjadi, terutama bencana banjir yang semakin mengganas. Banjir tak melihat status sosial. Banjir Jakarta dan sekitarnya menjadi bukti.

Orang miskin di sepanjang aliran sungai terkena dampak, orang kaya di daerah kota juga tak luput. Daerah yang sebelumnya tidak pernah terkena, akhirnya mendapatkan getah juga. Tidak ada yang tau kemana lagi sang banjir akan menggurita.

Seolah-olah ingin mengajarkan kepada manusia agar jangan sesumbar alias berani menjamin, daerahnya tidak bakalan terkena banjir. Who knows?

Banjir, menurut klasifikasi WHO terhadap natural disaster, merupakan bencana yang paling berdampak besar. Semua sendi dan sumber kehidupan manusia bisa lumpuh. Sumber air bersih menjadi rusak. Penyakit-penyakit menular berdatangan, kerugian harta benda dan jiwa bisa menjadi sangat masif, apalagi jika yang “bertamu” adalah banjir bandang. Sekuel juga akan sangat menyusahkan manusia. Bayangkan kalau banjir Nabi Nuh ‘alaihissalam yang datang ke wilayah kita, mau lari ke mana?

Dari beberapa tulisan teman-teman MPers lain tentang bencana, sebenarnya sudah sangat jelas bahwa bencana alam diakibatkan oleh ulah manusia sendiri, disadari atau tidak. Banjir sudah banyak yang mengetahui, karena curahan air tidak bisa diserap oleh tanah secara cepat. Siapa yang menggunduli hutan dengan menebangi pohon-pohon secara gila-gilaan? siapa yang membuang sampah-sampah ke sungai yang mengakibatkan pendangkalan?, siapa yang mengganti rumput-rumput dengan cone block bahkan dengan cor-cor-an padat dan waterproof? siapa yang membuat saluran drainase dengan asal-asalan?

Alam tidak bersalah, dia hanya menuruti kehendak penciptaNya, sesuai dengan ilham yang tercermin dari perilaku elemen-elemennya. Air tabiatnya mengalir ke bawah karena gaya gravitasi. Dia mengalir ke atas bila ada kondisi tertentu. Dan itupun secara alami hanya terbatas dalam jumlah kecil yang amat tertata dengan sangat baik. Air naik melalui akar menuju batang dan daun-daun tanaman. Darah (yang juga didominasi air) juga bisa naik ke otak karena ada pompaan yang sangat akurat oleh jantung dan “aliran-aliran sungai” pembuluh darah yang sangat rapih dan bersih.

Banjir adalah fenomena ketakseimbangan alam yang diakibatkan oleh faktor luar. Siapa lagi kalau bukan oleh makhluk berakal budi, manusia…
Air bisa merepotkan manusia sendiri jika sudah berada di luar tabiat alaminya. Air akan naik ke atas secara masif bila manusia menutupi tabiatnya untuk mengalir ke bawah. Bahkan pada kondisi tertentu, sebenarnya air akan selalu tetap berusaha kembali mengalir ke bawah, tapi akibatnya akan menyebabkan bencana lain, yaitu longsor.

Air yang tak terkendali pada tubuh manusia akan menyebabkan manusia itu mati. Banjir pada otak (alias stroke) akibat pendangkalan “sungai-sungai” yang mengalirkan “air” itu dipupuk oleh manusia dalam waktu lama dan tidak pernah disadari (atau mungkin malah disadari?). Manusia membuang sampah, racun, dan barang-barang tak berguna lainnya ke “sungai-sungai” itu. Sama saja dengan sungai dalam arti sebenarnya, akan mengalami sumbatan, pendangkalan, dan penyempitan. Akibatnya “air” mengamuk. Pecahlah “sungai-sungai” itu, mampetlah “sungai-sungai” itu…

Penyakit “banjir” pada diri manusia semakin tinggi angka kejadiannya. Bisa dikatakan semakin modern zaman, semakin banyak manusia yang akan terkena “banjir otak”.
Coba kita bandingkan dengan situasi alam ini. Semakin maju kehidupan manusia, ternyata banjir itu semakin tak terkendali dan semakin menggurita saja. Dan telah melumpuhkan beberapa “organ” alam itu sendiri. Alam sudah terkena STROKE, dan akan sangat sulit untuk memulihkannya…

Pada intinya: “bila manusia tidak peduli (bukan narsis loh… :-b) dengan dirinya sendiri, bagaimana mungkin ia akan peduli dengan sekitar….?”

Kapan kita mau sadar dan belajar….???

Iklan

2 thoughts on “Jakarta STROKE lagi (versi lain sebuah headline media massa: "Jakarta paralyzed, again")

  1. Banjir = Stroke
    Analogi yang menarik.

  2. 😀 hmmm…ini kebetulan aku lagi seperti gejala kena stroke gitu mba Fiya….hehehe, terisolir dari dunia maya beberapa saat…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s